Nama “Maja Lengka” berasal dari nama kuno yang dipakai
(sinonim) untuk menyebut “maja pahit” atau “maja langu.” Maja lengka
artinya maja pahit, buah maja yang pahit, karena ada juga buah maja yang
manis (maja legi). Lengkit (leng dalam lengkap) artinya sama dengan
pahit atau langu. Maja yang pahit itu berenuk (Crescentia cujete). Maja yang manis (maja legi atau maja batu atau Aegle marmelos)
bisa dimakan dijadikan sirup, maja yang pahit (berenuk) tidak bisa
dimakan, tapi biasa digunakan untuk obat malaria (sebelum kina ditemukan
Junghuhn).
Dalam bahasa Sansekerta buah maja itu disebut “bilva”,
sementara pahit disebut “tikta” (lihat kamus Inggris-Sansekerta online).
Kata “bilva” itu berubah jadi “wilwa” dalam tuturan Indonesia-Jawa;
majapahit = wilwatikta. Bilva= bael = buah dari Bengali, India. Bilva
(bael) sendiri itu maja legi (buah maja yang manis).
Keberadaan Kabupaten Maja yang ibu kotanya di Maja itu tidak banyak
bukti peninggalan sejarahnya, selain peta dan beberapa lokasi (foto di
bawah) yang menyebut itu ada di Maja (Kabupaten–karena tidak berada di
Kecamatan apalagi desa Maja). Yang paling meyakinkan hanya alun-alun
Maja yang difoto dari arah kantor Kabupaten berikut. Kenapa difoto?
Karena ada sudut pandang khas, yaitu bentuk Gunung Bongkok (Gunung Sela)
yang sangat amat spesifik.
Jalan arah ke kiri ke Mesjid Maja — dalam
literatur Belanda tertera sebagai berpintu khas -pintu koboy. Yang
banyak pedati itu jalan kecil ke kiri ke arah bukit pemakaman, ke kanan
akan bertemu lagi dengan jalan raya, di jalan ini tinggal keluarga Yogi
S. Memet (mantan Guberbnur Jawa Barat/Mendagri, dan Tuti Hayati Anwar
(mantan bupati Majalengka).
Bupati Kabupaten Maja (sampai berubah jadi
Majalengka) adalah Raden Tumenggung Dendanegara (1819-1848), yang
dipercaya makamnya ada di Gunung Wangi yang oleh penduduk setempat
diberi nama Dalem Kiyai. Jalan raya utama Maja -Cirebon adalah jalan
raya Maja (kantor bupati), ke utara, berbelok ke kanan melewati jembatan
Cirungkut (Cibuni, Cigede–kata orang Babakan Jawa Maja) melewati Blok
Saptu terus ke Cileungsi Paniis, Cicalung, Ciomas, Padahanten, Sukahaji,
Rajagaluh, Leuwimunding, Banjaran, Palimanan, Plumbon, Cirebon). Jadi
jalan itu akan cocok diberi nama Jalan Raden Tumenggung Dendanegara.
Perubahan Nama Kabupaten: Maja Menjadi Majalengka
a. Legalitas
Mulai
11 Februari 1840 nama Kabupaten Maja diubah menjadi Majalengka. Besluitnya berbunyi:
Verandering van den naam van het regentschap Madja
(residentie Cheribon), alsmede van den zetel van hetzelve, thans genaamd
Sindang-Kassie, in dien van Madja-Lengka.
“Verandering” [
perubahan] “van de naam” [
nama] “van het regentschap Madja (residentie Cheribon)” [
keregenan/kabupaten Madja (karesidenan Cirebon)], “alsmede”
[sekaligus juga] “van den zetel van hetzelve”
[tempat kedudukannya], “thans genaamd Sindang-Kassie”
[yang saat sekarang ini bernama Sidangkasih],” in dien van Madja-Lengka”
[untuk selanjutnya (diberi nama) Majalengka).
Ibu kota, yang dalam bahasa besluit disebut "tempat kedudukannya"
(den zetel van hetzelve), yaitu kedudukan keregenan atau pemerintahan
Kabupaten Majalengka yang "sekarang ini" (bahasa Belandanya "
thans," alias pada saat itu) bernama Sindangkasih [
"thans genaamd Sindangkassie") diubah nama juga menjadi Majalengka.
Jika merujuk peta "Kabupaten Maja" di atas, dan peta kota Sindangkasih (Majalengka) Junghuhn di atas, itu berarti bahwa
semula ibu kota Kabupaten Maja itu di Maja, bukan
di Sindangkasih. Banyak orang menduga, dari membaca besluit yang sama
yang menyebut nama Sindangkasih sebagai tempat kedudukan keregenan yang
kemudian diubah menjadi Majalengka seiring perubahan nama Kabupaten Maja
menjadi Majalengka itu, ibu kota Kabupaten Maja itu Sindangkasih.
Bahkan ada yang menyebut Kabupaten Majalengka itu sama dengan Kabupaten
Sindangkasih (suka ditulis Kabupaten Majalengka atau
Sindangkasih---salah besar, tidak ada nama Kabupaten Sindangkasih).
Maja dipilih sebagai ibu kota kabupaten diduga karena hawanya yang
sejuk. Bagi orang Belanda kesejukan itu perlu dan penting, sesuai dengan
iklim daerah asalnya. Lebih-lebih karena bisa pula "naik gunung" ke
Argalingga mencari udara yang lebih dingin.
Tampaknya (hipotetis) ada pemikiran pada Pemerintah
Belanda ketika itu untuk memindahkan ibu kota Keregenan Maja itu ke
tempat lain, yang lebih "datar" sehingga lebih luas untuk pengembangan
kota. Maja tidak representatif untuk dikembangkan jadi kota karena
berbukit-bukit. Tempat yang terpilih berada di
"wilayah Sindangkasih" (bukan desa Sindangkasih sekarang, tapi termasuk bagiannya)
.
Salah satu pertimbangannya pasti ada jalur jalan (dari Karangsambung
menuju ke Maja, Talaga, dan juga Kawali--lewat Sindangkasih sekarang,
lalu melalui Kulur, Cieurih, Pasanggrahan, Anggrawati dst.).
b. Sindangkasih versus Majalengka
Seiring dengan perubahan tempat ibu kota, bukan di Maja lagi, maka
nama kabupaten itu perlu diberi nama baru. Jika menggunakan nama "daerah
yang baru" (Sindangkasih), akan bertabrakan nama dengan banyak nama
Sindangkasih (Karawang, Ciamis, Beber Cirebon). Lalu dipilih tetap
menggunakan nama Maja, akan tetapi harus ditambahi "tambahan kata" agar
tidak tabrakan dengan nama Maja yang sudah tidak jadi ibu kota lagi.
Hipotetis: Setelah berdiskusi, tertemukanlah kemudian nama
"Majalengka" dari para ahli yang tahu babad Majapahit. Majapahit
(kerajaan) itu suka juga disebut Majalengka. Majalengka sama makna
dengan majapahit. Dalam bahasa Sansekerta kerajaan Majapahit itu suka
disebut juga Vilvatikta atau Wilwatikta. Vilva (wilwa atau bilwa) itu
buah maja; tikta artinya pahit. Nama Majapahit sudah jauh lebih populer
dibandingkan nama aliasnya, yaitu Majalengka. Dengan kata lain, nama
Majalengka dalam berbagai "literatur" sudah tidak digunakan untuk
menyebut nama Majapahit. Maka, karena ada persamaan ihwal buah maja
(yang pahit itu), digunakanlah nama itu.
Akhirnya, jadilah, per 11 Februari 1840 berdiri "kota" Majalengka sebagai ibu kota ("tempat kedudukan keregenannya" atau "den zetel van hetzelve") yang baru dari Kabupaten Majalengka, yang semula termasuk wilayah Sindangkasih.
Dengan kata lain, daerah "tempat kedudukan pemerintahan" Majalengka
yang bernama Sindangkasih itu, dipisahkan dari desa Sindangkasih semula.
Bahasa lainnya, desa Sindangkasih dimekarkan menjadi ada Sindangkasih
dan ada Majalengka. Ini seperti Kecamatan Majalengka dulu yang sekarang
dimekarkan menjadi Kecamatan Majalengka dan Cigasong. Tampaknya begitu.
Lihat juga peta "kota" Sindangkasih (Majalengka) versi Junghuhn
(1860-an) di atas, disajikan pula di bawah berikut. Tertulis:
Sindanglasi (Madja Lengka). Maksudnya, tadinya Sindangkasih, sekarang menjadi Majalengka.
Jadi,
desa (kota) Majalengka itu berdiri dengan besluit
(surat keputusan) Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 11
Februari 1840, sebagai nama pengganti dari nama semula Sindangkasih (bagian dari desa Sindangkasih).
"Kampung Sindangkasih" asli (di posisi desa Sindangkasih sekarang)
kemudian dijadikan tempat kedudukan pemerintahan desa Sindangkasih yang
baru sampai sekarang. Tampaknya urutan sejarahnya demikian. "Desa"
(kota) Majalengka kemudian (belum terlacak tahunnya) dimekarkan lagi
menjadi Majalengka Wetan dan Majalengka Kulon. Seperti desa Maja yang
dimekarkan menjadi Maja Kaler dan Maja Kidul.
c. Maja atau Talaga Sebagai Ibu Kota Kabupaten Maja
Di bawah ini--seperti telah disinggung di muka--peta "Kabupaten Maja" (benar-benar tertulis
Madja) dengan dua kota besar saja yang ada di dalamnya, yaitu
Madja dan
Telaga.
Walau dibuat tahun 1841 dan diterbitkan 1842, tampaknya perubahan pada
tahun 1840 (Maja menjadi Majalengka, dan Sindangkasih menjadi
Majalengka) itu belum sampai pada pembuat peta
, sehingga masih bernama Madja dan ibu kotanya belum Sindangkasih (Madjalengka).
Perhatikan garis jalan raya (yang tertulis "
Post ...... Weg")
dari Karangsambung ke Jamblang yang menjadi batas utara Kabupaten Maja.
Dari Jamblang naik ke Gunung Ciremay menembus sampai dengan "
regenschaft"
Telaga (tulisan besar dekat garis), terus ke barat ke perbatasan
Karesidenan Cirebon dengan Karesidenan Priangan ("Kabupaten
Sumedang")--garis tebal yang ada warna pink.
Dari "postweg" (jalan raya) Karangsambung ke selatan (bawah peta)
tidak ada "kota" apapun (Kadipaten, Sindangkasih atau Majalengka). Hanya
ada dua lingkaran kecil dengan masing-masing bertuliskan "Madja" dan
"Telaga." Itu sebabnya dapat disimpulkan bahwa ibu kota Kabupaten Maja
itu Maja, bukan Sindangkasih. Tidak logis juga jika ibu kotanya Talaga,
karena tak tersebut-sebut dalam besluit ada perpindahan ibu kota
(tempat kedudukan kebupatian atau keregenan) dari Talaga ke
Sindangkasih. Ibu kota Maja tidak disebut, karena tampaknya dianggap
otomatis tersirat dalam nama Kabupaten Maja. Dalam besluit disebut
dengan kata "
thans" (yang sekarang ini--saat "dipindahkan"), bukan yang tadinya atau dahulunya ("
vroeger" atau "
eerst") bernama Sindangkasih.
bu kota Kabupaten Maja, seperti telah disebutkan di atas, kalau
tidak Maja ya Talaga. Talaga itu adanya di (semula) "regenschaft Telaga"
seperti tampak dalam peta (di bawah nama "kota" Telaga), dan
disebut-sebut pula keberadaanya dalam batas-batas wilayah Kabupaten Maja
(tercakup ke dalam Kabupaten Maja) dalam besluit pendirian Karesidenan
Cirebon yang salah satu kabupatennya Maja (5 Januari 1819).
Ada dua "regenschaft" yang disebut-sebut dalam batas-batas wilayah
Kabupaten Maja dan lainnya, yaitu "regenschaft Rajagaluh" dan
"regenschaft Talaga." Tampaknya itu pengakuan akan adanya wilayah eks"
ketumenggungan ("kerajaan" bagian dari Kerajaan Galuh/Pakuan-Pajajaran)
di situ.
Perhatikan peta Junghuhn di atas. Ada jalur jalan raya dari "Cirebon"
sampai Maja, dan tidak terus ke Talaga. Jalur jalan dari Majalengka ke
Maja dan Talaga pun kecil saja (garis tunggal). Itu artinya Maja memang
ibu kota Kabupaten Maja, bukan Talaga. Residen Cirebon jika akan
inspeksi ke Kabupaten Maja ya datangnya akan ke Maja, bukan ke Talaga.
Jika ibu kota Kabupaten Maja itu Maja, maka dapat dianggap juga bahwa
adanya "kota" (desa) Maja secara yuridis-formal sebagai ibu kota
Kabupaten--sementara, sebelum sejarahnya terlacak lebih jauh--itu mulai
tanggal
5 Januari 1819.
Andaikata nama
Dalem Lumaju Agung itu mengikuti nama
kampung atau wilayah, seperti Dalem Jero Kaso yang disebut demikian
karena memimpin kampung Jero Kaso Maja, maka desa (daerah) Maja itu
dulunya bisa jadi bernama desa Lumaju. Kata Agung (Ageng) merupakan
tambahan kepada gelar Dalem, karena Dalem Lumaju benar-benar agung.
Jadilah sesebutannya (bukan nama aslinya) "Dalem" (yang memimpin daerah
kadaleman) "LUMAJU" yang "agung" (Dalem Lumaju Agung/Ageng). Dari asal
mula bernama "LUMAJU," lama-lama berubah menjadi MAJA. Jauh juga, ya!
LUMAJU, LUMAJA!
Stop: Bisa jadi nama Lumaju itu asal mulanya "LOH MAJA" (tanah daerah
yang banyak ditumbuhi tanaman maja). Maja atau berenuk? Silakan baca:
"Maja ta Berenuk?" dalam page Bongkok-Ciremay. Ini seperti "Loh Asri"
yang lalu menjadi "Losari." Kata Lohasri ke Lohsari, lalu ke Losari itu
dekat sekali. Tetapi "lohmaja" menjadi "lumaju" memang agak jauh. Tapi,
jauhan mana "Hujung Barang" kata Bujangga Manik (Prabu Jaya Pakuan)
menjadi "Ujung Berung" kata urang Rajagaluh, dengan "loh maja" menjadi
"lomaja" menjadi "lomaju" menjadi "lumaju." Coba tuliskan kata "lohmaja"
itu dengan aksara pegon (Arab-Sunda-gundul alias tanpa syakal). Akan
tertulis "lam-wawu-ha" (maunya "loh" bisa terbaca "luh"). Lalu "maja"
akan dituliskan "mim-alif (panjang) dan jim" (maja, bisa juga maju).
Atau kita kembalikan saja nama Dalem Lumaju Agung itu ke
"khiththahnya." "Maja" kembali ke "Lohmaja (Lomaja)," sehingga "Dalem
Lumaju Agung" menjadi "Dalem Lohmaja (Lomaja) Agung."
Keun siah, urang Maja dibikin
parusingeun ku uing tah si urang
Babakan Jawa Maja.
Komo "urang Sindangkasih"
mah!
Di mana "bekas-bekas" kantor Kabupaten Maja? Saya "curiga" dengan
bangunan selatan alun-alun Maja yang pernah dipakai markas tentara
Diponegoro (Batalyon 476) yang membangun "tugu" di depannya sekitar
tahun1958 ketika sedang "perang" dengan DI/TII. Mungkin juga bangunan
itu pernah dijadikan markas tentara Belanda ketika perang "actie I" yang
salah satu peletonnya bermarkas juga di Argalingga (mengawasi
perkebunan tebu?--jangan-jangan yang dimaksud perkebunan teh). Tentang
ini silakan baca di bawah.
Bangunan dimaksud pernah dipakai oleh SPP-SPMA Kabupaten Majalengka di Maja. [
Cik atuh, nu kagungan fotona jaman baheula, kintunkeun ka Mang-Tatang-UNY!]
Kantor bupati itu jangan dikira sangat mewah seperti istana. Ini
contohnya di bawah: rumah Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja
(1915-1922) yang juga amat sederhana saja (dilihat dari kaca mata
sekarang). Jika yang tahun 1920-an saja seperti itu, tentu lebih-lebih
lagi bangunan tahun 1819-1840.

Rumah Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja 1915-1922
Sekali Lagi Tentang Sindangkasih
Agar adil, tidak mengadili dengan “tak
sengaja,” Februari 2011 ini tertemukan peta Belanda kuno juga. Di
dalamnya ada Sindangkasih, walau tulisan tepatnya tidak begitu jelas,
tapi tetap bisa diduga itu Sindangkasih. Hanya saja, dari letaknya tidak
begitu jelas ini Sindangkasih mana, Beber, ataukah Majalengka?
Lihat perbandingannya dari Karangsambung di
sebelah kanan pnadnagan kita pada peta. Di kiri atas ada juga Kuningan.
Di sebelah atas Sindangkasih ada nama “kota” juga, tapi tak jelas apa.
Tidak tampak tertulis seperti “Telaga.”
Ini peta besarnya, saya krop (potong) yang berkaitan dengan Cirebon saja.

Peta Wilayah Cirebon
Lihat gunung Ciremay (De berg “Sirmeij”).
Turun ke bawah ada titik berwarna merah, di bawah Ciremay, di atas
bukit-bukit, dengan tulisan menegak ke atas. Itu Sindangkasih. Ada titik
merah pula di sebelah kanan Ciremay. Tidak jelas tulisannya (itu
ternyata Cikro -Cikeruh).
Lihat di sebelah kanan ada Gunung Tampomas
(Berg Tampomas). Itu wilayah Sumedang (District Sammadang). Ada sungai
besar. Di situ ada Karangsambung. Tarik jalan ke arah kiri, itu ke
timur. Berapa jauh dari Karangsambung (Kadipaten) ke Sindangkasih?
Mungkinkah itu Sindangkasih Majalengka?
Agak susah? Ini potongan lebih khusus agar lebih jelas.

Peta Sindangkasih
Nah, sekarang agak lebih jelas.
“Tetenger”-nya De Berg Sirmeij (pasti gunung Ciremay). Di bawah gunung
Ciremay ada perkebunan jati. Ada sungai langsung dari Ciremay, ini
nantinya bergabung ke Cimanuk (dari Sammadang). Ada bukit-bukit di
paling bawah peta. Ada titik merah. Itu Sindangkasih (tertulis Cundang
Kassi). Di atasnya, di hulu sungai agak ke kanan, ada titik merah juga.
Itu yang tidak jelas kota apa.
Di sebelah kanan, dekat sungai Cimanuk, ada
Karangsambung (bawah jalan, kanan sungai) dan di atas jalan kanan sungai
ada Jatiraga. Atas kiri, kiri Ciremay ada titik merah juga. Itu
Kuningan. Bukit-bukit di bawah itu tidak jelas bukit apa. Sindangkasih
ada di sebelah timur sungai, itu kemungkinan besar Cikeruh. Jadi,
Sindangkasih itu Majalengka atau? Ini pembesaran peta di atas.
Di peta berikut baru jelas itu yang disebut
Cundanglassi (Sindangkasih?) itu di mana. Berada di sebelajh timur
sungai Cikeruh. Bisa jadi, jika memang sudah ada sejak baheula, itu
Sindanghaji Leuwimunding, tadinya Sindangkasih (?!) Hanya saja tidak
terpahami kenapa sungai Cikeruh berasal dari timur gunung pegunungan
Ciremay, dan Cundanglasi ada di utara jalan raya, Sindanghaji ada di
selatan jalan raya. Sindangkasih Beber? Mungkin juga.
KERAJAAN SINDANGKASIH HANYALAH SEBUAH DONGENG LEGENDA
Berbasiskan sejarah pendirian kota
Majalengka yang semula berasal dari “desa” (kampung bagian dari desa)
Sindangkasih, sekian tahun kemudian tampaknya dibuatlah sebuah dongeng
(“ngabobodo nu cengeng”), mirip sebuah legenda. Yang dijadikan objek
dongeng adalah perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka, dengan
“keanehan” nama maja lengka yang oleh orang
Majalengka “modern” tidak dikenal. Dicari direka-rekalah bahwa nama itu
berasal dari kata “maja” (buah maja) dan bahasa cirebonan “langka” (beli ana) yang diubah manja jadi hilang (ngahiang), padahal hilang (“leungit”–Sunda) itu bahasa cirebonannya “ilang.”
Versinya menjadi: (1) Kerajaan Sindangkasih
dengan buah (hutan) majanya “langka” (hilang); dan (2) buah maja yang
diperebutkan yang kemudian “langka” (hilang).
Kapan hilangnya Kerajaan Sindangkasih (dan berdirinya Kerajaan Majalengka), konon ditengarai dengan candrasakala “sindang kasih sugih mukti”
yang nilai angkanya sindang 2, kasih 1, sugih 4, dan mukti 1 (tahun
Jawa/Saka). Ini dibaca dari belakang menjadi 1412. Jika dialihkan ke
Masehi harus ditambah 78 jadi 1412+78 = 1490 (klop). Jika menggunakan
tahun Masehi, maka angkanya menjadi sindang 0, kasih 9, sugih 4, mukti
1, dibaca terbalik jadi 1490. Nah, para ahli “sengkalan” bisa
menyebutkan mana yang benar, tentu sambil harus tahu dulu apa itu makna
kata “sindang” (jelas bukan bahasa Sunda yang berarti mampir, ada
kemungkinan sinonim dengan sendang, sedang, sedong, atau situ). Juga
makna “kasih”. Apakah bahasa Sunda modern mengenal kata kasih? Yang ada
asih. Ada juga “kakasih” (yang mungkin serapan dari basa Indonesia
kekasih). Jdi, pasti bahasa Sunda buhun (yang relatif banyak kesamaan
dengan Jawa). Di Jogja ada nama kecamatan Kasihan yang terkenal dengan
desa Kasongan (sentra kerajinan keramik). Orang Cirebon lama sudah kenal
dengan nama Ki Gedheng (Gedhe = Agung, ing = di/dari) Sindangkasih
(Sedhangkasih) yang punya anak Nay (Nyi) Ambet Kasih.
Yang aneh adalah candrasangkal itu lazimnya
menunjukkan peristiwa tertentu yang cocok, misalnya runtuhnya Majapahit
ditengarai dengan sengkala sirna ilang krtaning bumi yang sama dengan
sirna 0, ilang 0, krta 4, dan bumi 1. Dibaca terbalik menjadi 1400 Saka.
Masehinya 1400 + 78 = 1478. Runtuhnya majapahit itu sama dengan hilang
musnahnya kesejahteraan di bumi (majapahit). Nah, hilangnya sindangkasih
justru terbalik dicandrasangkali, yaitu menjadi sugih mukti.
Kebohongan candrasangkala, alias candrasangkala itu tidak pernah ada.
Harusnya yang sugih mukti itu Maja Lengka, jadi Maja Lengka Sugih Mukti,
karena Sindangkasih sudah tidak ada, sudah berganti jadi Majalengka
(karena majae wis langka–konon sejak itu ada nama Majalengka–gantinya
Sindangkasih!!!!) Tapi tak cocok dengan tahunnya!!!!!! Jadi. ayamku?!!
Hehehe…. Kasihan benar tuh “slogan” Sindangkasih Sugih Mukti dalam
lambang Ma jalengka. Ganti saja, lah, malu-maluin anak cucu yang sudah
intelektual (Jangan lupa, sudah banyak doktor dan profesor asli urang
Majalengka, dan pasti akan bertambah banyak lagi!!!!)
FOTO-FOTO DI KABUPATEN MAJA/MAJALENGKA
Pertama, sungai Cikeruh. Ini di bagian mana? Tak tahu saya. Bisa jadi
di dekat jembatan Sukahaji-Rajagaluh. Kedua, desa atau wilayah
Sindangpalay, belum sempat saya lacak di mana. Foto-foto kuno jaman
Belanda ini menyebutnya berada di derah “Madja.” Jadi, ada kemungkinan
mengapa nama Kabupaten Majalengka sekarang itu awalnya Kabupaten Maja,
karena nama Maja lebih populer di masyarakat dan pemerintah Belanda
karena ada pabrik teh di Argalingga, dan kemungkinan mereka juga banyak
berdiam di lereng Ciremay yang bernama “Maja” itu, entah di bagian
mana, karena lebih dingin, lebih cocok untuk mereka. Curug Apuy juga
lebih dikenal dengan nama Curug Maja, kan? Padahal di Apuy (di peta
Belanda ditulis
Apai, sementara Argalingga
malah tidak dipetakan). Basa Sunda lawas (Kawi) “apuy” di nusantara
bagian lain disebut apoy dan api; bahasa Kawi “nirapuy” = tak berapi.
STOP: Maja lebih dikenal karena ada pabrik teh di Argalingga, salah!
Hehehe. Kabupaten (Regensi) Madja berdiri 1819, ganti jadi Madjalengka
1840, pabrik teh Argalingga 1900-an. (Baca “Sejarah Majalengka: Melacak
Jejak Hindia Belanda” di blog ini juga, di situ ada surat keputusan asli
berbahasa Belanda dari literatur berbahasa Belanda tentang Regensi
Madja dan Regensi Madjalengka!). Mungkin karena di wilayah “Maja” itu
banyak sekali “dalem” dari “Kerajaan” Talaga (Katumenggungan Talaga,
sebagai bagian dari Kerajaan Galuh atau Pakuan Pajajaran).
Nah ini “gawir” (tepian terjal sungai) Cikeruh. Bandingkan ketinggian
dan kebesarannya dengan “mandor Belanda” yang berfoto di situ.

Gawir tepian terjal sungai Cikeruh, Maja, Cirebon “yang gundul.” Foto tahun 1930-an, koleksi Tropenmuseum.
Di bawah ini juga tepian sungai Cikeruh,
sisi yang lebih landai. Sayang seberapa lebar dan dalam sungai Cikeruh
tidak tergambarkan. Jika ada gambaran lebarnya dan kepenuhan airnya,
maka patut diduga bahwa “urang Talaga” jaman Kerajaan Talaga masih ada
itu jika ke Cirebon pasti “berlayar” di sungai Cikeruh melalui “bandar
sungai” (bahasa Belandanya “fort”) Palabuan. Nah, Palabuan ini belum
terlacak jejaknya kenapa disebut Palabuan (yakin pasti “palabuan parahu”
sungai Cikeruh). Tomo sudah terlacak dalam peta Belanda disebut Fort
Tomo (pelabuhan–bandar sungai–Tomo), dekat desa tempat penyebrangan
(menyeberangi sungai Cimanuk) yang bernama Karangsambung (disebut dalam
besluit pembentukan Karesidenan CVirebon, 1819).

Tepian sungai Cikeruh, Maja, Cirebon “yang gundul.” Koleksi Tropenmuseum.
Di bawah ini foto lembah Sindangpalay,
Maja, Cirebon. Sekali lagi, memang disebut di Maja, bukan di regensi
Majalengka. Di mana itu, belum tahu. Sindangpalay atau Sindangpala?
Tunggu, judul aslinya sebenarya “Sindangpalai-rug bij Madja,” alias
tonggong (geger) Sindangpalay dekat Maja. Tampaknya, dari bacaan
lainnya, foto ini ingin menunjukkan “pasir bulistir” (bukit gundul) yang
ada di Sindangpalay (Kabupaten) Maja atau Kabupaten Majalengka
sekarang. Sindangpalay itu Sindangpala yang ada di Talaga sekarang?.

Lembah (Tepatnya “Geger”) Sindangpalay (Sindangpala, Talaga?), Maja, Cirebon “yang gundul.” Koleksi Tropenmuseum.
Berikut foto jalur lewat hewan yang akan mandi (“guyang”) di sungai, juga di Sindangpalay, Maja, Cirebon. Juga menunjukkan kerusakan alam akibat dipakai turun naik hewan.

Kerusakan karena jadi jalur “guyang” hewan-hewan di Sindangpalay, Maja, Cirebon. Koleksi Tropenmuseum.
Foto berikut menunjukkan lembah sungai Cisuluheun,
mungkin di daerah sekitar Nunuk, Maja. Sama juga, sebenarnya
menunjukkan “pasir bulistir” alias bukit gundul di atas sungai
Cisuluheun. Sungai Cisuluheun itu anak sungai Cilutung. Hulu sungai
Cilutung itu di Talaga, mengalir melalui Nunuk juga, bermuara di
Cimanuk. Cisuluheun di mana ya hulunya? Dekat Cilutung Talaga ada sungai
Cibodas dan kampung Cibodas. Di situ (Cibodas, desa/”dessa” Maja,
Kecamatan/”district” Maja, Kabupaten/”Regensi” Majalengka “baheula”)
tahun 1870-an pertama kali di Indonesia dilakukan pengeboran minyak,
dengan “mesin” tenaga hewan. Lihat peta Junghuhn yang ada tulisan
“aardolie” (minyak bumi) dekat sungai Cibodas.
Lembah Sungai Cisuluheun (daerah Nunuk, Maja ?), Anak Sungai Cilutung yang Panjangnya 10 km.;
Foto Jaman Belanda; Koleksi Tropenmuseum
PABRIK GULA KADIPATEN DAN LAINNYA
Pabrik gula Kadipaten kini (2010) sudah tidak ada lagi. Bangunannya
sudah menjadi bangunan “ajang penampakan.” Dulu seperti apa? Ini
beberapa “sejarahnya.” Termasuk ada satu pabrik gula dekat Gunung
Kromong, tak tahu di sebelah mana. Kapan-kapan dilacak (tampaknya
Gempol, Palimanan–namanya Panbrik Gula Parungjaya).
Nah, ini foto kuno (1893) para “amtenar”
pabrik gula Kadipaten berfoto bersama selesai melakukan perburuan. Di belakangnya tampak “urang Kadipaten” padajongkok.

Foto bersama setelah berburu, para amtenar Pabrik Gula Kadipaten, tahun 1893.
Foto di bawah ini memperlihatkan seorang wanita sedang berada di bawah tenda taman di kompleks perumahan dinas pabrik gula Kadipaten, tahun 1890-1910

Seorang Wanita Belanda Di Bawah Tenda Taman Rumah Dinas, 1890-1910. Koleksi Tropenmuseum.
Pabrik Gula Kadipaten dilihat dari udara (atas asli; bawah sudah dikrop)
Pesta arak-arakan memulai giling tebu pabrik gula Kadipaten
Dari Cirebon ke Bandung tahun 1920-an ada
autobis lewat Kadipaten. Ini fotonya.
Pata Jalan Raya Pos (Postweg) buatan Daendels 1808 Melewati Kadipaten Parapatan Jamblang
(batas utara Kabupaten/Regenschaft Madja 1819-1840)
Pesawahan di daerah Kadipaten (1920-1933) , di latar belakang Gunung Ciremay
Jalur kereta api Cirebon- Kadipaten (tidak diketahui di daerah mana)
Selain di Kadipaten dan Jatiwangi (foto-fotonya belum terlacak) di Gempol, Palimanan (dekat Gunung Kromong) ada juga
pabrik gula Parungjaya. Ini fotonya.
Gunung Kromong dan Pabrik Gula Parungjaya Masa Belanda
Nah kalau yang ini rumah sakit Cideres (foto “ditemukan” 8 Februari 2011).

Rumah Sakit Cideres, 1908 (Punya “Zending,” tapi di pintu ada tulisan “Allah”)
MAJALENGKA “KEUR BAHEULA” (TEMPO DULU)
Nah, ini dia wajah Majalengka tempo dulu, jaman baheula. Pertama, kita lihat “
aloen-aloen Madjalengka.”
Lucu juga ya, jauh berbeda dari sekarang. Cuma, itu di latar belakang
gunung apa? Seperti Gunung Bongkok. Tapi apa iya seperti itu dilihat
dari Majalengka? Ini memotretnya dari arah mana? Atau, ini alun-alun di
mana? Apa alun-alun Majalengka sekarang? Masih banyak pedati, ya? Tuh
sedang parkir berderet-deret.
Jangan-jangan ini sebetulnya “aloen-aloen Madja” ketika masih jadi
ibu kota Kabupaten Madja yang berubah jadi Madjalengka. Pembuat nama
bisa salah. Ini difoto dari arah selatan. Jalan ke kiri (barat) itu ke
mesjid Maja. Pedati berderet itu di jalan kecil utara laun-alun Maja
sekarang, lupa nama jalannya (munkin Dalem Rancucuk atau Dalem
Kulanata), kalau arah ke kirinya Jalan Ketib Anom. Jalan berpedati itu
sambungnya ke kanan ke rumah keluarga Yogi Memet, melalui SDN Maja III
(lalu jadi SMPN Maja). Jalan di tengah itu sekarang jadi jalan raya
Maja-Majalengka/Talaga. Bangunan di belakang pedati itu dulu Poliklinik
Maja dan Koramil. Di bagian depannya toko keluarga Aziz (ayah Fuad
mantan kuwu Maja).Foto tampaknya diambil dari halaman agak barat Kantor
Bupati Madja ketika itu, atau dari jalan utara alun-alun menuju ke barat
ke arah pasir Kopo (yang banyak jambu kopo ketika baheulanya).

Alun-alun Majalengka (Maja?) jaman Belanda
Kalau yang ini sih Gunung Bongkok (Gunung
Sela) sekarang, dilihat dari perbatasan Haurbuni (Haurduni ceuk letah
ayeuna teh!) dan Banjaran, Maja.

Gunung Bongkok (Gunung Sela) dari Arah Barat (Haurbuni-Banjaran)
Yang berikut ini “kereta pos” Majalengka-Kadipaten.
Lucu juga, ya, bentuk “kahar” alias “dokar”-nya. Nah, selain itu,
kantor pos dan telegraf (“Hulppost en Telegraaf Kantoor”) ini kira-kira
di sebelah mana kota Majalengka sekarang? Bisa dibuat “maket”
duplikatnya, ya. Terus di simpan di Museum Majalengka (bukan Museum
Sindangkasih, atuh, “teu kaci”–Hehehe. Memang kota Majalengka aslinya
kota Sindangkasih? — Silakan baca “Kabupaten Majalengka: Melacak Jejak Hindia Belanda” di blog ini juga!)

Kereta pos Dinas Pos Pemerintah jalur Majalengka-Kadipaten
Berikut contoh-contoh perangko
“Majalengka” dari jaman Belanda (“Nederlandsch Indie”), maksudnya
perangko yang digunakan untuk memposkan surat dari Kantor Pos
Majalengka. Tertemukan lagi koleksi perangko jaman Belanda itu (15
Januari 2011) yang dicap stempel pos dari Kadipaten.

Perangko Nederlandsch Indie cap pos Majalengka

Perangko Kadipaten 14-11-1923
Yang berikut ini “kebun tebu” yang “padat tenaga kerja” yang terletak di antara Majalengka dan Rajagaluh. Ini foto tahun 1935.

Hamparan kebun tebu di antara Majalengka dan Rajagaluh sekitar tahun 1935.
Nah, ini konon rumah sakit Majalengka
baheula pisan. Tahun 1925. Ini juga kira-kira di sebelah mana dari kota
Majalengka sekarang, ya? Apa yang di Jalan Kesehatan (dari Toko Potret A
BOK ke kiri kalau dari Kadipaten, ke kanan kalau dari Maja) sebelum
dibangun jadi gedung?

Rumah sakit Majalengka jaman Belanda
Nah, yang ini jembatan Tjimanoek
di Kadipaten, juga jaman Belanda. Memang sekarang sudah berubah? Belum,
ya. Aslinya “penyebrangan” — menyebrangi sungai Cimanuk dari Sumedang
ke Cirebon dan sebaliknya di Karangsambung yang disebut-sebut dalam
besluit Kabupaten Maja di mana, ya?

Jembatan Cimanuk di lintas jalan raya Priangan – Cirebon dekat Kadipaten
Jembatan Cimanuk Sumedang-Kadipaten 1946-1950
Yang belum tertemukan adalah foto-foto kuno “Fort Tomo” alias pelabuhan sungai Tomo yang pasti ada di sekitar jembatan ini.
Nah, yang ini bendungan Cigasong tahun 1918, kiriman Tatang Gustawan (hatur nuhun).
Mobil di Majalengka kepunyaan Tan Ho Goan berfoto bersama Tjio Tin Lan dan saudara perempuannya
(Sopirnya siapa, ya?)
GOENOENG CHAREME DAN “ANAK-ANAKNYA”
Ini ada peta “kuno” (tapi sudah ejaan
baru–agak aneh). Peta ini tentang Gunung Ciremay dan anak-anaknya.
Gunung Bongkok ternyata resmi disebut Gunung Sela. Selain itu di atasnya ada Gunung Pucuk. Desa Tegalsari belum tersebut, yang masih ada nama Tegalacawel (Tegalcawet). Cikebo malah masuk dalam peta sebagai sebuah “desa.” Yang termasuk membuat bingung, antara Cicalung dan Maja ada desa Cileungsing.
Ini Paniis? Kenapa disebut Cileungsing? Banyak leungsing, pasti. Tapi
kapan diubah jadi Paniis? Atau, masih ada kampung Cileungsing sampai
sekarang?
Lainnya bisa lihat sendiri. Klik untuk membesarkan.

Peta Gunung Ciremay
Bandingkan dengan peta di bawah ini.

Peta Kabupaten Majalengka, 2010
TALAGA
Ihwal Kerajaan Talaga, baca di kaca (“page”)
khusus dengan judul itu. Ini kisah jaman Belanda. Pertama-tama kita
lihat foto-fotonya dulu. Nah ini foto situ Sangiang. Eh, ternyata
bule-bule Belanda juga senang ya nongkrong-nongkrong di Situ Sangiang (“meer van Sangiang“).
Bule-bule Belanda di Situ Sangiang Talaga, 1918
Nah, ini foto bule-bule Belanda pulang dari Situ Sangiang ke Talaga. Enak ya, ditandu.

Naik tandu pulang dari Situ Sangiang ke Talaga, 1918
Nah, foto yang satu ini orang Talaga paling tahu. Pemandangan ke lapangan luas (hamparan sawah) di Talaga. Sebelah mana, ya?

Pemandangan hamparan tanah (sawah) luas di Talaga, 1918
TENTARA BELANDA DI MAJA
Nah, ini kisah tentara Belanda (Brigade H) di Majalengka (yang disebut-sebut: Tonjong, Majalengka, Maja, Argalingga).

Lambang Brigade-H Belanda
Op 26 november 1949 werd het 1e peleton, samen met een peloton
mitrailleurs van 43 ZMC, gelegerd te Madja, gelegen aan de voet van de
berg Tjereme. Twee dagen later werden tien man van het 2e peloton
gelegerd op de post Argalingga om toezicht te houden bij de ontmanteling
van de daar gelegen suikerrietplantage. [Pada tanggal 26 Nopember 1949, Peleton I, disertai peleton senapan mesin 43ZMC, bermarkas di
Maja, di kaki gunung Ciremay. Dua hari kemudian, sepuluh orang dari Peleton II bermarkas di
Argalingga untuk mengawasi perkebunan tebu di situ--bukan teh?--Pen.].

Gunung Ciremay: Di kakinya Brigade H-Belanda bermarkas (1949-1950)
Op 5 december voegde het restant van het 2e peloton zich bij de
groep te Argalingga. Twee dagen later werd de post Argalingga opgeheven,
waarna het gehele 2e peloton werd overgebracht naar Cheribon (Kosambi
kazerne). Op 15 december werd ook de post Madja opgeheven en werd het 1e
peloton teruggenomen op Madjalengka waar ook de staf en het 3e peloton
nog gelegerd waren. [Pada tanggal 5 Desember sisa pasukan Peleton
II bergabung ke Argalingga. Dua hari kemudian pos Argalingga
dipindahkan. Seluruh anggota pasukan di Argalingga dipindahkan ke markas
Kosambi Cirebon. Pada tanggal 15 Desember seluruh pasukan yang ada di
Maja ditarik kembali ke Majalengka, bergabung dengan pimpinan Brigade
dan anggota Peleton III yang ada di sana].
Ini ceritera lain sih, bukan lanjutan Brigade H. Konon, menurut
pengalaman prajurit Belanda, malam-malam, dalam kegelapan, tentara
Belanda patroli. Tak tahunya, paginya, diketahuilah bahwa tempat patroli
itu ternyata pekuburan. Hiy . . . . Ini di Madjalengka, tapi
Madjalengka sebelah (desa, kecamatan) mana, tak jelas.

Tempat malam-malam tentara Belanda patroli, tapi tak tahu itu kuburan. (Kompleks pekuburan di derah … Majalengka)
BANTARUJEG
Nah, orang Bantarujeg juga kebagian terlacak
“jaman baheulanya.” Ini pengalaman seorang tentara Belanda (Leo
Mossink) yang diceriterakannya bagaimana ia “berkelana” di Jawa Barat.
Termasuk ke Cikijing, Talaga, dan juga Bantarujeg. Kisahnya dimuat dalam
website para veteran tentara Belanda di Indonesia. Kisahnya saya
nukilkan (dalam bahasa Belanda, tentu) di bawah.
Ini salah satu koleksi fotonya. Terpampang
wajahnya di dekat jembatan bambu yang membentang di jalan antara Talaga
dan Bantarujeg. Tidak tahu pasti apakah itu jalan raya Talaga
Bantarujeg, atau jalan lain, tapi jelas disebut antara Talaga dan
Bantarujeg.

Tentara Belanda di jembatan bambu antara Talaga dan Bantarujeg, tahun 1947-an
Yang satu lagi juga ceritera tentara Belanda
tadi. Pasukannya terjun payung di Bantarujeg. Hayo, urang Bantarujeg,
di lapangan mana tentara Belanda ini padaterjun?

Tentara Belanda terjun payung di Bantarujeg, 1947-an
Nah, masih dalam ceritera tentara Belanda
yang “jalan-jalan” ke Cikijing, Talaga, dan Bantarujeg, ada peta Jawa
Baarat yang dipasang di ceriteranya. Nah, coba cari ada tidak Bantarujeg
di situ. Hehe… Sayang, karena mungkin peta itu aslinya berwarna, lalu
ketika ia muat jadi hitam putih, jadinya tak begitu jelas, ya.

Peta Jawa Barat jaman Belanda
Nah, ini cuplikan kisah Leo Mossink dimaksud. Diindonesiakan rada kira-kira saja, intinya.
Geschiedenis trekt zo zijn sporen – Leo Mossink (2000—dimuat dalam “7 December Divisie – Indië-veteranen website” Agustus 2010)
Tjikidjing
Uitgeleide gedaan door bijna de hele kampongbevolking van Pasirwangi
ging het richting Soemedang, een bergachtig gebied via de Nagregpas. Men
wilde in één dag naar onze nieuwe post Tjikidjing. Het was een zware
tocht vooral met de carriers. Dat gaat niet zo snel. Warm gelopen
motoren, wachten op afkoeling en op het laatst ook slepen tot de
eerstvolgende post van het bataljon.
[Kami diantar oleh hampir
seluruh penduduk Kampung Pasirwangi Sumedang meneruskan perjalanan
melalui perbukitan Nagreg. Kami diharapkan dalam satu hari sudah sampai
ke pos baru kami di Cikijing. Itu perjalanan yang melelahkan dalam karir
kami sebagai tentara. Ternyata perjalanan tidak mulus. Kendaraan
kepanasan, sehingga kami harus menunggu sampai mesin dingin lagi, baru
meneruskan perjalanan kami ke pos kami yang baru].
De laatste 30 kilometer was het wegdek verschrikkelijk slecht, vol
met gaten en ontzettend stoffig. Dit gebied waren we tijdens de 1e actie
in 1947 ook door gereden. „s Avonds om half 9 waren we, moe en heel erg
stoffig, in Tjikidjing. Tot overmaat van ramp was er geen water om ons
te “mandiën” (het juiste woord in het Maleis is mandi, dat betekent
baden, maar bij ons was het altijd “mandiën”.) Gelukkig begon het wat
later te regenen, een heerlijke tropische bui, en konden we buiten
genieten van een heerlijke douche. Moe, maar schoon, heb ik die nacht
lekker geslapen
[Tiga puluh kilometer terakhir menjelang tujuan,
perjalanan benar-benar memayahkan, jalanan penuh batu dan debu. Tempat
yang kami tuju dalam "Aksi I tahun 1947" ini pun belum dipersiapkan.
Pukul 8.30 malam kami baru sampai di Cikijing. Celakanya, di markas
tidak ada setetes pun air untuk kami "mandien" (kata Melayu yang tepat
sebenarnya mandi, artinya membersihkan tubuh, tetapi kami
membelandakannya menjadi "mandien). Untunglah tak lama kemudian turun
hujan, iklim tropis yang menyenangkan, sehingga kami bisa menikmati
mandi gerujugan ("shower") di luar dengan air hujan. Karena kelelahan,
tetapi tubuh sudah bersih, malam itu jadinya kami bisa tidur lelap].
De temperatuur was daar wat hoger dan in Pasirwangi, zodat we met een
deken minder konden volstaan. Het was de bedoeling dat we daar een paar
weken zouden blijven. Het ligt in de buurt van de berg Tjeremai. Het
gebied waar wij zaten was gelukkig tamelijk vlak. Toch hebben we in de
korte tijd dat we er zaten zware patrouilles gemaakt, een keer zijn we
zelfs 17 uur onderweg geweest
[Suhu di Cikijing lebih tinggi dari di
Pasirwangi, sehingga satu selimut tidak cukup untuk kami. Padahal kami
rencananya akan berada di situ dalam beberapa minggu. Daerah itu berada
di kaki Gunung Ceremai. Areanya relatif membuat kami senang, karena
datar. Akan tetapi toh kami harus melakukan patroli yang berat, tidak
kurang dari 17 jam di perjalanan sekali patroli].
We zaten daar in het seizoen van de natte moesson. De wegen waren
niet verhard, het leek wel een soort rode klei. Het was dan vooral ‟s
nachts geen lolletje om er op uit te moeten
[Kami berada di sana di
musim penghujan. Jalan-jalannya tidak beraspal, lebih berupa tanah
lempung merah. Ketika malam kami tak bisa ke mana-mana mencari hiburan].
Talaga
Drinken badwater moesten we in Talaga halen. Daar was ook de staf van
de mortiercompagnie gelegerd. Mijn vriend Han van Doorn lag daar ook.
Ik was met hem bevriend geraak toen we beiden in het staf peloton zaten.
Toen dat peloton opgeheven werd ging hij naar het 12e en ik naar het
14e peloton. Af en toe kwam ik in Talaga om naar de Mis te gaan of ook
om water te halen en dan zocht ik hem op. De aalmoezenier kwam af en
toe in Talaga. De dienst werd gehouden in een van de kamponghuizen, voor
alle in de buurt gelegen katholieke militairen
[Di Talaga kami mau
tidak mau harus meminum juga air yang sama yang dipergunakan untuk
mandi. Di sana bermarkas pula kompi senjata berat. Teman saya, Han van
Doorn, juga ada di sana. Kami dulu bersahabat karena masuk dalam peleton
yang sama. Ketika ada perubahan anggota peleton, kami berpisah, ia
masuk ke Peleton XII, sementara saya masuk ke Peleton XIV. S
aya
kadang-kadang harus ke Mes Talaga untuk mengambil air minum, dan saya
sering berjumpa dia ketika itu. Pendeta Katolik kadang-kadang datang
juga ke Talaga. Pelayanan dilaksanakan di salah satu rumah orang kampung
bagi semua anggota yang beragama Katolik].
Madjelengka
In Madjelengka was de bataljonsstaf gelegen. Dat was ongeveer 1½ uur
rijden van ons kamp. Het hele bataljon was nu in dat gebied rond
Madjelengka geconcentreerd
[Di Majalengka bermarkas anggota
batalion. Dari markas saya di Cikijing perjalanan ke sana sekitar satu
setengah jam. Seluruh anggota batalion sekarang semuanya bermarkas di
sekitar Majalengka].
Nieuw uniform [Seragam Baru]
We kregen daar een pyjama, dat was nog nooit gebeurd, en ook een
nieuw kaki uniform. De maat klopte voor geen meter. In de kampong zat
een kleermaker die heb ik gevraagd het uniform passend te maken. Daar
deden mijn collega‟s nogal smalend over, maar toen ze het resultaat
zagen kreeg de kleermaker meer klandizie. Aan Coby heb ik echter moeten
vragen in Holland een leeuw embleem en een EM-badge te willen kopen en
op te sturen De kleermaker heeft ze op de mouwen genaaid. In het leger
waren die badges niet beschikbaar, maar nu was het uniform toch
compleet. We hebben tot eind november 1948 in Tjikidjing vertoefd
[Di
Majalengka kami mendpat satu stel piyama, sebelumnya tidak pernah ada
pembagian piyama, juga mendapat satu stel seragam pakaian "kaki." Sayang
ukurannya tidak pas. Di kampung ada tukang jahit yang bisa saya minta
mengepaskan seragam saya.
Bantaroedjeg
Daarna zijn we naar Bantaroedjeg gegaan. Dat was een post waar we
niet met vervoer konden komen. Tussen Talaga en Bantaroedjeg was een
brede kali. De brug die er over gelegen had was opgeblazen en nog steeds
niet hersteld of vervangen door een baileybrug
[Kami lalu pindah ke
Bantarajeg. Di pos ini kami tidak punya alat transportasi. Antara
Talaga dan Bantarujeg terdapat sebuah "kali" yang lebar. Jembatan yang
ada di atas kali tersebut hancur dan belum dibetulkan atau dibuatkan
jembatan bailey].
Een kilometer of zes richting Bantaroedjeg was in dezelfde weg over
een brede kali een bamboe loopbrug aangebracht. Vervoer kon dus tot de
kapotte brug, vervolgens met het materiaal lopend naar de andere kant
van de loopbrug. Daar stonden dan carriers te wachten waarmee we naar
het kamp reden. Als er wat gehaald of gebracht moest worden uit of naar
Talaga, moest dat op deze omslachtige manier gebeuren. Dat nam heel wat
tijd in beslag.
Wij losten daar het 12e peloton af. Zij lieten hun transportmiddelen
in Bantaroedjeg achter, wij het onze in Talaga. Hoe dat rijdend
materiaal in Bantaroedjeg gekomen is, is me altijd een raadsel gebleven.
We werden bevoorraad vanuit de lucht. Op gezette tijden kwam er een
Dakota over die grote pakketten aan parachutes uitwierp met daarin
courage en allerlei andere bestelde benodigdheden en onderdelen. Ook
benzine en olie voor de carriers.
Het was daar veel patrouille lopen. Gelukkig niet zulk zwaar terrein.
Om een zo groot mogelijk gebied te kunnen bestrijken, brachten we met
de carriers de jongens zo ver mogelijk het gebied in. Plaats van ophalen
en tijd werd afgesproken. De twee carriers gingen met de chauffeur en
één man bewaking terug naar het kamp om dan later de jongens weer op te
halen.