Kamis, 12 September 2013

Kesenian yang ada di Kabupaten Majalengka

GAOK

Kesenian “ Gaok “ apabila  diamati dalam cara penampilannya merupakan seni tradisional yang telah mengalami singkritisme antara nilai-nilai budaya etnis sunda buhun dan budaya bernuansa islam yang dibawa dari cirebon. Misalnya dapat diamati ketika dalam pertunjukan, ternyata selalu diawali dengan bahasa sunda, tetapi gayanya terkadang seperti orang yang sedang mengumandangkan adzan, kemudian busana yang dikenakan para pemainnya adalah busana khas sunda.
Seni ini mulai ada dan berkembang di majalengka di perkirakan sejak setalah masuknya Agama Islam di wilayah Kabupaten Majalengka yaitu sekitar abad ke 15 ketika pangeran Mehammad berusaha menyebarkan ajaran islam, yang dilaksanakan sebagai upaya yang dipandang strategis dalam dakwah islam. Hingga sekarang seni tradisonal Gaok masih ada yaitu yang dikembangkan di desa Kulur Kecamatan Majalengka oleh seorang seniman bernama Sabda Wangsaharja sejak sekitar tahun 1920.
Kesenian tersebut termasuk seni sastra jenis “ mamacan “ (membaca tekx) atau juga disebut wawacan singkatan dari wawar ka anu acan (memberitahu kepada yang belum mengetahui), yang disuguhkan tanpa penggung pada acara seperti keperluan ritual atau upacara adat yang umumnya dilaksanakan ketika  “ ngayun “ (acara kelahiran bayi ) dengan cara memaparkan cerita seperti Babad Cirebon yang dilantunkan melalui vokal para pemain yang berjumlah antara empat hinga enam rang bahkan mungkin lebih, dengan busana berupa kampret/ toro lengkap dengan ikat kepala, sipimpin oleh seorang dalang/pengawawit dan juru mamaos, diatur berdasarkan urutan; (1) tatalu; (2) lalaguan dan (3) tarian; serta (4) pertunjukan. Adapun alat musik yang digunakan adalah (1) Gong Buyung dan (2) Kecrek dari Bambu. Durasi pemain biasanya berlangsung semalam suntuk. Sekarang durasinya hanya sekitar dua jam saja, dimana para pemainnya secara bergantian melantunkan tembang dengan suarayang keras sehingga dinamakan ‘ Gaok “ yang diambil dari kata “ ngagorowok “ (berteriak) dengan bentuk pupuh atau kakawen.
Kesenian Gaok di Desa Kulur Kecamatan Majalengka saat ini dipimpin oleh E. Wangsadiharja, tersebar hingga ke beberapa desa Kecamatan Majalengka dan Cigasong. Sebelum kesenian Gaok dimulai diadakan upacara “ susuguhan “ (memberikan sesajen kepada para leluhur) berupa makanan dan minuman sisertai pembakaran kemenyan.
Menurut kurun waktu nya seni Gaok terbagi dua macam, yaitu (1) Buhun yang mengisahkan zaman dahulu dan; (2) Galur yang mengisahkan kehidupan manusia pada zaman sekarang.


SAMPYONG
Pada tahun 1960 di daera Cibodas Kecamatan Majalengka tumbuh sebuah permainan rakyat yang dikenal dengan ujungan. Permainan ini merupakan permainan adu ketangkassan dan kekuatan memukul dan dipukul dengan mengunakan alat yang terbuat dari kayu atau rotan berukuran 60 cm. Pemain terdiri atas dua orang yang saling berhadapan, baik laki-laki maupun perempuan, dipimpin oleh seorang wasit yang disebut malandang. Kedua pemain menggunakan teregos, yaitu tutup kepala yang terbuat dari kain yang diisi dengan bahan-bahan empuk sebagai pelindung kepala. Tutup kepala demikian dikenal pula dengan sebutan balakutal. Sasaran pukulan pada permainan ujungan tidak terbatas, dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa di tangkis. Seorang pemain dapat memukul lawanya sebanyak-banyaknya, atau bahkan dipukul sebanyak-banyaknya, hingga salah seorang diantaranya dinyatakan kalah karena tidak lagi kuat manehan rasa sakit akibat pukulan.
Pada deskripsi profil ini, ujungan tidak dikatagorikan seni bela diri, karena seorang pemain tidak melakukan jurus tangkisan. Walupun demikian, permainan ini tetap dianggap sebagai sebuah karya seni karena didalamnya terdapat unsur-unsur kesenian, misalnya seperangkat gamelan pencak silat yang ditabuh sepanjang permainan ujungan dilaksanakan. Adegan ibing pencak silat yang manis. Pukulan ditandai dengan seruan sang maladang : “ Biluuk! “, disusul kemudian dengan pukulan kearah yang diinginkan.
Karena sifat permainan yang terlalu bebas, maka permainan ini dianggap terlalu berbahaya dan tidak banyak orang yang sanggup memainkannya. Beberpa orang tokoh ujungan mencoba membuat penyempurnaan-penyempurnaan, dengan cara menyederhanakan aturan permainan. Setidaknya terdapat tiga butir aturan esensial yang terdapat pada aturan permainan yang baru, yaitu :
  • Seorang pemain hanya diperkenankan memukul sebanyak 3 (tiga) kali pukulan; dan
  • Sasaran pukulan hanya sebatas betis bagian belakang, tidak lebih dari itu.
  • Pemain dapat bermain pada kelas yang ditentukan menurut usia, misalnya golongtan tua, menengah, pemuda, dan anak-anak.
Seiring dengan berlakunya peraturan yang baru itu, maka nama ujungan pun ditinggalkan. Nama permainanyang lebih populer adalah “ Sampyong ”, Sam = Tiga dan Pyong = Pukulan. Nama baru ini terucap begitu saja dari salah seorang penonton keturunan Cina ketika ia menyaksikan permainan ini. Kiranya ia tertarik pada jumlah pukulan pada permaianan ini hingga kemudian terucaplah kata Sampyong yang kemudian melekat menjadi sebutan permainan sampai sekarang.
Sebagai sebuah seni pertunjukan, sampyong dihidangkan pada acara-acara tertentu, misalnya pada acara hajatan, dan kini lebih sering terlihat pada acara kontes ketangkasan domba (adu domba). Berikut beberapa urutan pertunjukan sampyong pada suatu acara khusus :
  1. Seluruh peserta memasuki arena dipimpin oleh seorang wasit, melakukan penghormatan kepada penonton dengan iringan kendang pencak dan lagu Golempang.
  2. Pertunjukan eksibisi, yang dimainkan oleh dua orang tokoh ujungan, sebagai pertunjukan pembuka.
  3. Pertunjukan utama, seorang pemain berhasapan dengan pemain lainnya menurut urutan panggilan, dipimpin oleh seorang maladang.
Tokoh-tokoh yang berjasa mengembangkan seni sampyong antara lain : Sanen (Almarhum), Abah Lewo, Mang Kiyun, mang Karta, K. Almawi, Baron, Komar, Anah, Emin dan beberapa tokoh lainnya yang tersebar di beberapa daerah Majalengka. Berkat keulatn para tokoh itu, sampyong tersebar kebeberapa daerah diantaranya Cibodas, Kulur, Sidangkasih, Cijati, Simpeureum, Pasirmuncang, dan beberapa daerah lainnya. Sebagai penghormatan, kelompok seni sampyong Mekar Padesaan dari simpeureum pernah mewakili Jawa Barat pada event pertunjukan seni olah raga di Bali beberapa waktu yang lalu.


SINTREN

Kesenian Sintren di Majalengka berkembang di daerah Ligung, yakni daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Indramayu, yang dianggap sebagai daerah nenek moyang kesenian ini, kedekatan wilayah ini menyebabkan terjadinya penetrasi indramayu ke wilayah Ligung, yang disebabkan oleh adanya komunikasi, sentuhan sosial, dan sekaligussentuhan budaya. Bahasa sebagainmasyarakat Ligung yang menggunakan Bahasa Indramayu, menyebabkan sintren yang diiringi lagu-lagu indramayuan dengan mudah diterima masyarakat setempat. Salah satu lagu yang terkenal dalam kesenian sintren adalah Turun Sintren yang sebagian syairnya berbunyi sebagai berikut :
Turun-turun sintren
Sintrene Widhadhari
Widhadhari tumuruno
Aja suwen mindho dalem
Dalam sampun kangelan
Lagu di atas memiliki kekuatan magis yang tinggi, sebab selain sebagai lagu pengantar, lagu ini merupakan lagu “ mantra “ yang sangat berpengaruh kepada jalanya pertunjukan sintren. Adapun instrument/waditra-wadhitra yang dipergunakan sebagai pengiring terdiri atas duah buah ketipung, sebagai kendang kecil, kecrek, dan dua buah buyung/juru/klenting (wadah untuk mengabil air). (Tuty Yuhanah, 1983). Karena salh satu wadhitra yang digunakan adalah buyung, maka sintren disebut juga Ronggeng Buyung, namun istilah ini tidak sepopuler nama sintren.
Menurut Arthur S. Nalan (2003), kata sintren berasal dari kata SIN yang berarti sindir, dan TETAREN yang berarti pertanyaan memlalui syair yang perlu dipikirkan dan dicari jawabannya. Adegan yang tampak pada pertunjukan sintren adalah adanya orang yang kesurupan (trence), yang karena adegan trence maka kata sintren digunakan.
Lagu-lagu lain yang dilantunkan dalam kesenian sintren adalah kidung, Kembang Tareate, Gulung-gulung Klasa, Simbar Pati, Kilar Blatar, dan lain-lain. Sebagaimana sisebutkan di muka bahwa lagu-lagu pengiring ini memiliki kekuatan magis, sebab ada beberapa lagu yang digunakan sebagai sarana pemujaan; selain beberapa lagu yang merupakan pembaharuan, umpanya lagu-lagu dangdut, yang digunakan sebagai lagu permintaan dari penonton yang akan ikut nari. (Tuty Yuhanah).
Pertunjukan sintren diawali dengan nyala sinar lampu tempel atau ocor, disusul dengan bunyi gamelan. Setelah membakar dupa, seorang penari berkaca mata hitam namun berpakaian biasa dengan tangan teikat tambang di belakang, masuk kedalam lingkaran pertunjukan. Sementara itu para penyanyi menajikan lagu-lagu sebagai lagu pemujaan berbahasa Indramayu yang dilakukan berulang kali.
Penari sintren yang terikat tambang tak sadarkan diri ketika pawang membacakan mantra-mantra, dirbahkan dan dimasukan kedalam kurungan (ranggap). Pawang membawa dupa sambil membaca mantra, berjalan mengelilingi kurungan, diiringi gamelan dan lagu-lagu yang terdengar dinyayikan terus-menerus.
Tbalah saatnya kurungan dbuka, ternyata putri sintren sudah beubah, kini ia memakai pakaian cantik dan tangan tidak terikat. Aksesoris yang dikenakan putri sintren tampak gemerlapan karena sinar lampu, dan tentu saja, berkaca mata hitam. Sewer pun datang berjatuhan dari penonton, sebagai ungkapan selamat kepada putri sintren yang kini tampak cantik. Jika tubuh putri terkena lemparan sawer, maka tubuhnya akan lemas dan terjatuh, “ makanya ketika sintren menari selalu dikelilingi pembantu juru kawih, dan apabila terjatuh maka ia akan dibacakan mantra-mantra agar segar kembali “ (Athur S. Nalan). Lagu yang nyanyikan pada waktu saweran adalah lagu Ayo Ngewer-Ngewer Putren :
Ayo ngewer-ngewer putren
Sing dikewer rujake bae
Ayo nyawer-nyawer putren
Sing disawer panjoko bae
Jika penyawer sudah sepi, putri sintren berjongkok dan ditutup ranggap kembali, dengan iringan lagu Orok-orok :
Orok-orok
Banyu bangrimapar tembok
Wong nonton pada udodhok
Sintren metu salin erok
Ketika ranggap dibuka, tampak putri sintren sudah berpakaian seperti semula, berpakaian bisasa, berkaca mata hitam, dan tangan terikat, serta tidak sadarkan diri. Pawang membacakan matra hingga ia tersadar. Pertunjukan berakhir diiringi lagu Ulung-ulung :
Ulung-ulung Simbar Wulung
Sing Wulungpatine layang
Ala gandrung eling-eling
Ayo si........ (menyebut nama putri sintren)........ pada balik.
Kesenian sintren yang ada saat ini di desa Randegan wetan Kecamatan Jatitujuh, dengan group “ Metal Budaya “.


KECAPIAN
Kecapapian merupakan bentuk kesenian yang menggunakan kecapi sebagaiwaditra utama. Di Majalengka tumbuh berbagai ragam bentuk bentuk seni kecapian, antara lain Kecapi Suling, Kecapi Cemplungan, Kecapi Jejaka Sunda, Kecapi Pantun, dan Kecapi Kalaborasi. Berikut disajikan deskripsi tentang keenam ragam seni kecapian tersebut.


1. Kecapi Suling
Kecapi suling yang berkembang di Majalengka terdiri atas Kecapi tembang dan Kecapi Kawih.
1. Kecapi Tembang
Kecapi suling merupakan bentuk kesenian yang memadukan waditra suling. Fungsi kecapi dan suling pada kesenian ini adalah sebagai pengiring lagu-lagu berbentuk tembang dan kawih.
Seni kecapi suling yang mengiringi tembang dikenal dengan Tembang Sunda,. Pada kesenian ini, terdapat dua buah kecapi sebagai pengiring, yaitu kecapi indung dan kecapi rincik. Biasanya kecapi indung disebut juga kecapi perahu sebab bentuknya seperti perahu. Kadang-kadang disebut jugakecapi gelung karena pada kedua ujungnya berbentuk gelung wayang (mahkota). Jumlah kecapi indung ada 18 yang terbuat dari bahan kuningan. Sedangkan suling yang dipergunakan dalam tembang sundaadalah suling berlubang enam yang dapat berfungsi menghasilkan beberapa laras, seperti pelog, madenda (sorog), dan salendro. Khusus untuk tembang yang berlaras salendro biasanya rebab digunakan untuk menggantikan fungsi suling.
Pemain kecapi suling pada tembang sunda terdiri atas seorang pemain kecapi indung, seorang pemain kecapi rincik, seorang peniup suling, dan juru mamaos baik wanita maupun pria. Lagu-lagu atau tembang yang dibawakan dalam tembang sundaterdiri atas empat golonganlagu, yaitu Rarancagan, Papantunan, dedegungan, dan Jejemplangan. Keempat golongan lagu itu termasuk kedalam sekar irama merdika yaitu lagu yang tidak terikat birama. Untuk melangkapi penyajian tembang irama merdika tersebut, biasanya disajikan penambih (lagu tambahan) berupa kawih. Kawih yang disajikan sebagai penambih ini berbentuk sekar tandak, yaitu lagu yang terikat birama, sehingga iringannya terdengar beraturan.
Para pemain kecapi seling tembang sunda berpakaian taqwa dengan warna seragam, memakai bendo, dan berkain panjang. Sedangkan juru mamaos wanita mengenakan kebaya dengan sanggul dan hiasan lainnya.
Di Majalengka tembang sunda dikembangkan oleh para seniman yang pernah mendapat pendidikan tembang sunda dari daerah periangan, baik melalui penataran atau pelatihan, maupun melalui pendidikan sekolah (SMK dan STSI). Tokoh-tokoh seniman yang berjasa mengembangkan tembang sunda diwilayah Majalengka antara lain Samsuri, E. Kusnadi, Oyo Suharja, Amin Choeruman, dan Soni Supriatna. Walaupun tidak melalui pendidikan khusus, di majalengka lahir beberapa orang juru mamaos wanita yang turut meramaikan khasanah tembang sunda, antara lain Titin Supartini, Tati, Lia Marliani, dll.
2. Kecapi Kawih
Kawih adalah bentuk karawitan sekar (vokal) yang terikat oleh birama atau ketukan. Kecapi untuk mengiringi kawih berbeda dengan kecapi pengiring tembang. Kecapi yang digunakan untuk mengiringi kawih ini adalah kecapi siter dengan julah kawat 20. Biasanya menggunakan satu atau dua buah kecapi. Jjika menggunakan dua buah kecapi, salah satu di antaranya berfungsi sebagai kecapi indung dan yang lainnya sebagai rincik. Suling pada kecapi kawih ini berfungsi sebagai lilitan lagu yang kadang-kadang tempatnya digantikan oleh rebab sesuai dengan kebutuhan lagu. Vokalis pada kesenian ini disebut juru sekar atau juru kawih.
Kesenian ini biasanya tampil menghibur dalam berbagai acara, baik acara seremonial biasa maupun acara-acara hajatan. Hingga saat ini dikenal beberapa pelaku seni kecapi kawih yang andal di Majalengka, di antaranya E. Kusnadi, Oyo suharja, Wasman Rukmana, Daryono, Risnandar, Soni Supriatna (suling dan rebab), Aceng Hidayat (suling), Dede Carmo, Rasma Sudrajat, dan Dadang.
Kesenian kecapi kawih saat ini juga dikembangkan melalui media radio, yaitu melalui siaran Haleuang Pasundan di Radika 100,3 FM Majalengka oleh Group Panghegar. Kelompok seni kawih lainnya antara lain Manik mekar Saputra (Cigasong), tandang Midang (Munjul), dan Kania Setra (Maja).

2. Kecapi Cemplungan
Waditra yang digunakan pada kecapi cemplungan bukan hanya kecapi dan suling, akan tetapi ditambah dengan waditra lain lain sepeti gendang dan gong. Penyajian musik pada jenis kesenian ini terasa lebih lengkap karena beberapa waditra yang berneda dibunyikan dalam suatu sajian yang harmonis. Lagu-lagu yang dibawakan adalah sekar tandak atau kawih. Pada kecapi cemplungan ini, rebab lebih banyak difunsikan jika lagu-lagu dibawakan dalam laras salendro. Untuk menambah daya tarik kepada penonton, penyajian kecapi cemplungan kadang-kadang ditambah pula dengan penari jaipongan, karena musik yang dibawakan melalui kecapi cemplungan memungkinkan tampilnya penari jaipongan melalui lagu-lagu yang selaras.
Group-group kesenian yang siap menampilakan seni cemplungan antara lain Manik Mekar Saputra, Sanggar Panghegar, Tandang Midang, dan Kania Setra.

3. Kecapi Jejaka Sunda
Kecapi jejaka sunda merupakan jenis seni kecapian yang menyajikan lagu-lagu yang jenaka atau luca dalam irama bebas. Jenis kecapian yang digunakan adalah kecapi siter. Pelakunya tediri atas seorang pemain kecapi yang berpera juga sebagai penyanyi ditambah dengan seorang atau dua orang pemain yang semuanya memiliki kemampuan lagu-lagu jenaka.
Kecapi jenaka sunda di Majalengka dikembangkan pada waktu kelompok kesenian PG Kadipaten (tahun 1970-an) masih aktif, dengan seorang dalangnya yang kreatif yaitu Edi Jubaedi. Pemain lainnya yang terkenal adalah Abah Duleh, Abah Bontot, Mang Uu Wahyu, dan Mang Pentil. Generasi berikutnya adalah Karjo, Iwan Abok, Casma (Mang Cemeng), Ikin Sodikin (Mang jangkung).
Pada saat sekarang, kecapi jenaka sunda meskipun jerang sekali ditampilkan dapat dipesan melalaui group Mustika Budaya (Cigasong) dan Tandansg Midang (Munjul).

4. Kecapi Pantun
Kecapi Pantun merupakan sajian kecapian sebagai mendia pengantar atau pengiring ketika sang juru pantun membawa cerita. Pengertian pantun secara harfiah menurut Saleh Danasasmita adalah  “ cerita, balada, dongeng atau sejarah masa silam, umumnya mengenai kerajaan Pajajaran (dibawakan dengan nyanyian, diiringi tarawangsa atau kecapi). (Saleh, 1974). Sedangkan menurut para juru pantun merupakan wancahan atau singkatan dari kata papan nu jadi panungtun. Artinya melalui cerita pantun penonton atau pendengar mendapat tutunan hidup.
Kesenian pantun merupakan jenis kesenian yang didukung oleh unsure-unsur seni sastra dan karawitan. Unsur sastra tampak pada cerita pantun yang dibawakan. Cerita pantun yang semula hanya merupakan cerita lisan. Sekarang sudah banyak yang ditulis berupa buku. Unsur seni karawitan tampak pada iringan widatra kecapi yang dipetik selama pertunjukan pantun dilaksanakan.
Karakteristik penyajian pantun secara tradisional adalah :
  1. Pelaku kesenian ini hanya 1 orang.
  2. sebelum pergelaran dilakukan upacara berupa penyiapan sesajen (sesaji) dan membaca mantra oleh juru pantun sambil membakar kemenyan.
  3. kecapi yang digunakan adalah kecapi indung, atau kecapi biasa dengan jumlah kawat 18 buah.
  4. hingga sekarang masih dianggap sebagai kesenian yang sakral.
Karakteristik pertama bahwa pelaku pantun hanya 1 orang, ini senada dengan penuturan Ajip Rosidi (1983 32) bahwa di daerah Cirebon peruntunjukan pantun hanya dilakukan oleh seorang juru pantun, tanpa teman main lainnya. Namun kenyataan kemudian menunjukkan bahwa upaya survive agar pantun tetap digemari maka pada kesenian ini ditambahkan waditra lain, seperti piul (biola), seorang sinden, dan bahkan gamelan, sehingga pertunjukan pantun tidak ubahnya pertunjukan wayang catur (cerita wayang tanpa wayang) (Ajip Rosidi, 1983 33).
Sesuai dengan jiwa sakralitas yang diusungnya, kesenian pantun selain dipertunjukkan untuk keperluan tontonan, digunakan juga untuk keperluan ruwatan. Tatakrama ruwatan dan kelengkapan Iainnya tidak berbeda dengan acara ruwatan yang dilaksanakan menggunakan kesenian wayang (golek maupun kulit).
Pada umumnya, alur cerita dimulai dengan Rajah Pamuka, diteruskan dengan mangkat carita, nataan karajaan dan para tokoh cerita, selanjutnya bercerita. Pada akhir cerita ditutup dengan melantunkan lagu Rajah Pamunah atau Rajah Penutup.
Cerita-cerita pantun yang terkenal antara lain Mundinglaya Di Kusumah, Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Nyi Sumur Bandung, Jaran Sari, Raden Deudeug Pati Jaya Perang, Panggung Karaton, Demung Kalagan, Nyi Pohaci Sanghiang Sri, dll.
Tokoh-tokoh atau jurupantun terkenal dari Majalengka adalah
  1. Saein dari Kelurahan Tonjong;
  2. Sidik dari Bantarjati;
  3. Warwa dari Desa Jatitujuh;
  4. Maun dari Pasir
  5. Nadi dari Desa Kutamanggu;
  6. Baedi dari Desa Kadipaten;
  7. Kusma dari Desa Kadipaten;
  8. Cecep dari Desa Waringin;
  9. Rasim dari Desa Mandapa;
  10. Iwan Ompong dari Desa Bojong Cideres.
Dari kesepuluh orang jurupantun di atas, yang masih hidup adalah Cecep, Rasim, dan Iwan Ompong. Ketiganya sudah berusia cukup lanjut. Karena itu perlu ada upaya regenerasi agar kesenian ini tidak mengalami kepunahan.

5. Kecapi Kolaborasi
Kecapi kolaborasi dikembangkan oleh para seniman muda Majalengka seperti Oyo Suharja dan kawan-kawan. Pada kesenian ini waditra yang digunakan adalah, kecapi siter, gitar akustik, cuk, gitar bas, biota, ruling, gendang, dan gong. Jumlah pernain musik yang, terlibat di dalamnya mencapai
sepuluh orang, yang masing-masing memegang alat musik y.iii{j berbeda. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kowlli Sunda, lagu-lagu pop Sunda, dan bahkan mampu mengiriiigi
lagu-lagu Indonesia Populer.
Di dalam penyajiannya, para pemusik tidak duduk bersila sebagaimana kesenian Sunda lainnya. Kecapi yang digunakan disimpan di atas sebuah standar sehingga pemain
kecapi dapat memainkannya sambil duduk di atas kursi. Demikian pula dengan, pemain musik lainnya. Jumlah penyanyi atau juru sekar pada kesenian ini dapat lebih dari satu orang.
Kecapi kolaborasi di Majalengka pertama kali diperkenalkan pada waktu Gelar Seni Tradisi 1 tanggal 26 Desember 2004. Sanggar Panghegar (Radika FM Majalengka) pimpinan Wasman Rukmana adalah satu-satunya kelompok kesenian yang menyajikan jenis kesenian ini.


TARI TOPENG KLASIK
Pada abad ke XVI para wall yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga dan Embah Kuwu Sangkan (Gusti Sinuhun Cirebon) menciptakan sebuah kesenian yang dinamakan Tari Topeng, karena para penarinya memakai tutup muka yaitu Nyi Mas Gandasari (Nyi Gedeng Pangarongan) serta para wiyaganya terdiri dari Walisanga.
Pada mulanya seni Topeng ini untuk menyamar agar bisa masuk ke dalam Keraton Kasepuhan yang telah dikuasai oleh Pangeran Karawelang dari Karawang yang kontra terhadap Walisanga dan ajaran Islam. Dengan menyamar sebagai Nyi Mas Karawelang pedang pusaka yang disebut "Pedang Si Gelap" dapat direbut yang akhirnya Keraton kasepuhan dapat diduduki kembali oleh Gusti Sinuhun Cirebon. Selanjutnya kesenian Topeng ini digunakan sebgai sarana upacara adat Keraton dan upacara Ngarot (syukuran pada musim panen padi di desa-desa).
Masuknya seni Topeng ke daerah Kabupaten Majalengka sekitar abad ke XVII yang dibawa oleh bapak Setian (seorang tokoh seni Tari Topeng dan Wayang Kulit) dari Gegesik, kemudian secara turun temurun sehingga tahun 1937 berdirilah kesenian ini yang dipimpin oleh Andet Suanda.
Berbeda dengan pendapat yang disampaikan oleh Warniti, bahwa tari Topeng ini dibawa ke Majalengka oleh Embah Buyut Giwang pada abad ke XIX, dan tahun 1930 baru emulai berdiri Tari Topeng Klasik Beber yang pada saat itu penarinya ada tiga orang, yaitu; Nayem, Nasem dan Nayem (ibunya Warniti).
Tari topeng klasik berkembang di Desa Randegan Kecamatan Jatitujuh. Ini merupakan kelompok seni tradisional yang didirikan tahun 1952 sebagai kelanjutan dari tradisi di Desa Beber. Pendirinya adalah Ema Nayem, kemudian diwariskan kepada H. Warniti, Suanda, Tasminah, dan Suhadi hingga sekarang. Menurut Suhadi Tari Topeng Klasik yang dipimpinnya pernah tampil hingga ke wilayah Cirebon dan Kuningan.
Terdapat beberapa jenis tari topeng, seperti topeng; (1) Panji; (2) Samba; (3) Tumenggung; (4) Rahwana; dan (5) Rumyang. Kelima jenis tersebut menggambarkan siklus kehidupan manusia. Topeng panji menggambarkan fase masa bayl (warna putih) temperamen raja Pinandita; Topeng Samba mengambarkan fase masa remaja (warna merah gading) temperamen Raja Sinatria; Topeng Tumenggung menggambarkan fase masa dewasa (warna merah jambu) temperamen manusia kukuh dan berwibawa; Topeng Rahwana menggambarkan fase masa dewasa dengan nafsu buruk (warna merah tua) temperamen manusia yang tidak menemukan aku dengan sifatnya yang sombong; dan Topeng Rumyang menggambarkan fase masa tua (warna mawar) temperamen manusia yang telah tua yang percaya diri.
Penyajian Tari Topeng Klasik didukung oleh pangrawit, (pemusik), penari dan lawak berbusana khas tradisional Cirebon. Busana yang dipakai oleh pangrawit yaitu jas tutup, bendo dan selancar. Sedangkan pemeran wanita berupa apok, soder dan sontog. Kesenian ini dilengkapi dengan Iayar, dekorasi panggung khas Cirebon.


KUDA RENGGONG
Kuda renggong tumbuh dan berkembang di Kabupaten Majalengka sejak tahun 1950-an. Adalah sebuah seni pertunjukan rakyat yang bersifat helaran dan pada awalnya disiapkan melayani pesta sunat. Penampilannya kemudian bukan hanya untuk pesta sunat,-namun dipersiapkan juga untuk acara lain, seperti upacara hari besar, festival, menyambut tamu, dll.
Menurut penuturan salah seorang pelatih kuda renggong di Desa Heuleut, Leuwimunding, melatih kuda untuk bisa menari sesuai irama kendang bukan hal yang mudah. Seperti halnya melatih hewan sirkus, melatih kuda memerlukan kesabaran dan_cukup banyak memakan waktu. Kemampuan menari sambil berjalan kemudian ditambah dengan kemampuan atraksi bermain pencak silat. Adegan yang tampak adalah kuda berdiri tertumpu pada sepasang kaki belakang, sedangkan pasangan kaki depan melakukan gerakan-gerakan silat. Ini merupakan puncak pertunjukan kuda renggong, yang biasanya ditampilkan setelah kuda renggong melakukan arak arakan keliling kampung ditunggangi anak sunat. Dalam acara festival, selain keindahan pernak-pernik pakaian clan gerakan tari, gerakan silat ini menjadi fokus penilaian utama. .
Alat musik yang digunakan pada awalnya adalah seperangkat waditra yang digunakan pada pencak silat namun dilengkapi dengan seorang sinden. Penyajian musik pada kuda renggong menjadi lebih atraktif dengan ditambahkannya alat musik modern - biasanya sebuah gitar melodi elektrik - yang menampilkan lagu-lagu jogedan. Pada saat arak-arakan pengantin sunat, masyarakat sekitar yang suka menari atau berjoged turut memeriahkan suasana berjoged di depan kuda dengan maksud untuk menghibur pengantin sunat. Pengantin sunat sendiri dinaikkan di atas Kuda dengan didandani pakaian Gatotkaca sehingga tampak gagah, seperti seorang ksatria kecil sedang menunggang kuda.
Di Majalengka perkembangan kesenian kuda renggong berkembang pesat dan tersebar hampir di semua kecamatan. Dengan tidak menafikan makna spiritual yang dikandungnya, kuda renggong di Majalengka menjadi fenomena hiburan yang digemari oleh semua lapisan mas.yarakat. Studio Radio Indraswara Majalengka bahkan membuat mementum yang bagus, yakni dengan membuat jadwal festival Kuda Renggong setiap tahun sekali. Pada saat festival inilah masyarakat­mendapat kesempatan mengapresiasi kesenian kuda renggong, sekaligus memahami makna yang dikandungnya. Arthur Nalan (2003) menyebutkan bahwa "makna simbolis kuda renggong adalah makna spiritual, makna interaksi makhluk Tuhan, bermakna spiritual, teatrikal dan makna universal.
Nama-nama kelompok kesenian kuda renggong di Majalengka merujuk kepada nama atau julukan yang diberikan kepada kuda yang menjadi ronggeng-nya. Misalnya Si Walet Group, karena nama kudanya adalah.Si Walet, demikian pula halnya dengan nama-nama seperti Si Paser Group, Si Kalong Group, dsb. Nama-nama ini juga tidak diberikan begitu saja, karena pemberian nama juga harus mempertimbangkan wanda (bentuk tubuh), karakter, dan tingkat keterampilan kuda. Misalnya Si Kalong Hideung, nama ini diberikan karena kulit tubuh kuda dimaksud berwarna hitam dan bermata seperti kalong, Si Paser karena keterampilan berlarinya yang cepat melesat seperti sebuah paser (anak panah). Beberapa nama kuda di beberapa daerah ada yang sama, ini disebabkan oleh penyebaran keturunan, balk pemilik kuda maupun kuda sendiri. Atau bahkan karena pemilik kuda yang satu berguru kepada pemilik kuda yang lain, sehingga - dengan komitmen seperlunya - memberikan nama yang sama kepada kuda yang dimilikinya.
Hingga saat ini, tercatat ada 50 group kesenian kuda renggong di Majalengka. Indraswara penyelenggara festival kuda renggong paling sedikit mengundang sedikitnya 15 group kuda renggong. untuk tampil pada acara festival tahunan yang secara resmi dibuka oleh Bupati Majalengka.
Sedangkan group kuda renggong yang masih eksis saat ini beberapa di antaranya sebagaimana disebut pada tebal di bawah ini.
Nama Group Nama
Pimpinan Alamat
Jaya Giri Si Jaya Ijah Baribis, Cigasong
Sari Si Ronald Juhadi Sinarjati, Dawuan
Si Giler Group Si Giler Entis Kasokandel, Dawuan
Sri Si Amoy Ujang Yana Gandu, Dawuan
Pamor Budaya Si Jaya Laksana
Toto Sadasari, Argapura
Budaya Si Gagak Ajid Leuwimunding
Sinar Jaya Si Dolar Dedi Supriatna
Cieurih, Maja
Meganada Si Walet Muda
Ahmad Sukaraja. Jatiwangi
Arpila Si Disco Aminudin Padahanten, Sukahaji
Dimas Si Dimas Ade Tarikolot, Cigasong
Muda Jaya - Kosasih Darmalarang, Banjaran
Walet Si Walet M. Sodikin Sadasari, Cikijing
Si Kalong Hideung
Si Kalong Ujang Sutarding
Palasah
Gatot Si Gatot Adar Palasah



GEMBYUNG
Seni tradisional Gembyung berasal dari nama salah satu gamelan Sunda yang disebit Goong, dilengkapi alat musik lainnya oleh pemain yang berjumlah lengkapnya 25 orang. Mereka terdiri atas : pemain kenting satu dan dua; pemain kemong satu dan
dua; pemain kendang katipluk; pemain kolenter; pemain gembyung satu dan dua pemain suling; dan pemain rebab; sertapemain kemong satu dan dua.
Biasanya kesenian Gembyung darn Kabupaten Majalangka ini.ditampilkan dalam acara-acara yang bernuansa religius, misalnya dalam acara pernikahan, mauludan, peresmian mesjid atau haulan seperti pernah dilaksanakan di Pesantren Benda Cirebon, dan di salah satu pesantren di Kabupaten Subang (di Pamanukan). Selain itu, pernah pula dipentaskan untuk mewakili seni tradisional Majalengka yang dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 1984 dan 1986 lalu.
Penampilan seni Gembyung diawali dengan pembacaan tawasul dan hadhoroh kepada Nabi Muhammad SAW, para keluarganya dan para sahabatnya serta kepada para pengikutnya yang taat kepada-Nya. Kemudian tampil lagu-lagu yang materinya adalah shalawat yang bersumber dari Kitab barjanji (yaitu kitab yang ditulis Imam Barjajnji) atau yang disebut Deba, diiringi oleh musik gembyung tersebut. Pertama kali muncul seni budaya tradisional Gembyung di Kabupaten Majalengka diperkirakan sejak sebelum tahun 1930­an. Pada sekitar tahun 1970-an pernah mengalami kemandegan, tetapi atas upaya yang sungguh-sungguh dari para tokoh seni itu seperti yang dilakukan oleh H.E. Zaenal Muttagin, Dudung dan ustadz Sadeli dari Gunung Manik Kec. Talaga, termasuk pula dari dukungan Bupati Majalengka pada masa H.E. Jaelani, SH juga Bupati sekarang Hj. Tutty Hayati Anwar SH., M.Si. untuk mengeksiskan kembali seni Gembyung dengan kemasan menarik, Walaupun termasuk kelompk seni yang mempunyai akar budaya buhun (kuno), tetapi dalam perkembangannya cenderung dikemas secara dinamis oleh para seniman yang ahli di bidangnya yaitu dengan mengikuti perkembangan zaman.
Beberapa kelompok kesenian gembyung antara lain
  1. Group Laila, pimpinan Bapak Oyo, di Buninagara Bantarujeg;
  2. Panji Wulung, pimpinan Kyai Bahrudin, di Gunungmanik;
  3. Mekar Budaya Putra, pimpinan Yaya Suhaya, di Gunung Manik; ditambah dua group lainnya di Ganeas dan Salado;
  4. Miftahul Jannah, pimpinan Noyadi, di Darmalarang, Banjaran;
  5. Panca Darma, pimpinan (ping Jaenudin, di Burujuiwetan JatiwangI.


GOONG RENTENG
Kesenian ini disebut kesenian Goong Renteng atau Goong Ajeng. Kata ajeng dalam hal ini mengandung arti mempersilakan.
Kesenian ini dirintis oleh Bapak Timpuk, Kepala Desa Gintung Kecamatan Sukahaji pada tahun 1799. Sekarang nama desa ini sudah berganti menjadi Desa Bayureja.
Konon Bapak Timpuk berhubungan dengan Syeh Siti Jenar dari Cirebon, yang pada waktu itu agama Islam sudah mulai tersebar di wilayah Cirebon. Bapak Timpuk merasa tertarik untuk turut menyebarkan agama Islam di wilayahnya. Maka is mencoba membuat alat kesenian goong renteng sebagai media penyebaran agama Islam yang dilakukannya.
Setelah Bapak Timpuk meninggal pada tahun 1855, goong renteng diwariskan kepada anak cucunya, dengan pesan bahwa kelak yang harus mengrus goong ini adalah istri-istri dari anak cucu yang mendapat warisan itu. Kini usia goong itu sudah lebih dari 11 turunan, hingga jatuh kepada pemiliknya yang terakhir sekarang, yaitu. Ibu Marsiah.
Goong ini sekarang dianggap sebagai barang keramat, yang disimpan dengan balk serta setiap malam Jum'at diberi bakaran menyan clan ditaburi bunga-bunga. Setiap tanggal 13 Mulud goong dicuci dengan air kembang, dan pads malam tanggal 14 ditabuh sambil menyanyikan lagu-lagu klasik.
Jalannya pertunjukan adalah sebagai berikut
- tatalu;
- lagu Papalayon (lagu pembukaan);
- Iagu Engko;
- lagu Halang naik Pangprang;.
- lagu Oet-oetan;
- Iagu Dengkleung (lagu Penutup).
Pada acara hajatan durasi pertunj_ukan diperpanjang dan jumlah Iagunya diperbanyak. Kondisi kesenian Goong Renteng sekarang sudah sangat memprihatinkan. Untuk itu, perlu ada upaya penanganan yang serius dari pihak-pihak terkait agar kesenian ini mampu bangkit dan hidup kembali.

Tradisi di Kabupaten Majalengka

Tradisi adalah Tradisi kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Nah,yang kali ini saya mau bahas adalah salah satu tradisi kabupaten Majalengka khususnya  di kecamatan Talaga..mari kita simak tradisi nya..
Tradisi Nyiramkeun merupakan sebuah tradisi yang berada di Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka. Tradisi Nyiramkeun merupakan tradisi berupa mencucikan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Talaga. Kata Nyiramkeun berasal dari kata Sunda yaitu Siram. Tradisi ini berguna untuk melestarikan benda-benda penginggalan kerajaan Talaga tersebut. Tradisi Nyiramkeun dilaksanakan secara turun temurun oleh yayasan Talaga Manggung yang merupakan keluarga keturunan Kerajaan Talaga Manggung pada hari senin pada tanggal belasan Bulan Safar.
Benda-benda yang dicuci dalam upacara ini adalah patung simbarkencana, patung raden panglurah, genta, uang koin, gamelan, senjata keris, golok dan pedang, meriam, senjata, dan baju zirah (perang).
Gamelan pusaka yang akan dicuci.
Gamelan pusaka yang akan dicuci.
Senjata dan Meriam Pusaka yang akan dicucikan,
Senjata dan Meriam Pusaka yang akan dicucikan,
Air untuk penyucian benda-benda pusaka tersebut berasal dari 7 sumber mata air (Ci Nyusu) yang diambil oleh kuncen menggunakan tempat penyimpanan yang berasal dari bambu kuning. Ketujuh sumber mata air (Ci Nyusu) tersebut adalah :
  1. Mata air Gunung Bitung.
  2. Mata Air Situ Sangiang.
  3. Mata Air Wanaperih.
  4. Mata Air Lemah Abang.
  5. Mata Air Ciburuy.
  6. Mata Air Regasari.
  7. Mata Air Cikiray.
Pengisian kendi dari air yang berasal dari Gunung Bitung
Pengisian kendi dari air yang berasal dari Gunung Bitung
Pengisian kendi dari sumber mata air Situ Sangiang
Pengisian kendi dari sumber mata air Situ Sangiang
Ketujuh mata air tersebut terletak di wilayah Talaga dan sekitarnya. Mata air tersebut berada di tempat-tempat yang ada kaitannya dengan sejarah Kerajaan Talaga.
Acara Nyiramkeun Museum Talaga Manggung biasanya dimulai dengan adanya acara Kirab Pusaka. Setelah itu benda-benda pusaka di simpan dipanggung-panggung terpisah. Misalnya Patung Simbarkencana dan Patung Raden Panglurah dipisahkan tepat pencuciannya dari benda-benda lainnya seperti gamelan atau meriam. Kedua patung tersebut sangat diistimewakan. Sebelum masuk ke acara Nyiramkeun, biasanya dibacakan naskah tentang perjalanan sejarah Kerajaan Talaga, dari awal pendirian hingga menjadi Kabupaten Talaga sebelum akhirnya di gabung bersama Kabupaten Sindangkasih dan Kabupaten Rajagaluh menjadi Kabupaten Maja pada tahun 1819 (Nama Kabupaten Maja berubah menjadi Kabupaten Majalengka pada tahun 1840).
Patung Raden Panglurah
Patung Raden Panglurah
Patung Ratu Simbarkecana yang sedang dicui oleh air dari 7 mata air dan kembang setaman
Patung Ratu Simbarkecana yang sedang dicui oleh air dari 7 mata air dan kembang setaman
Setelah pembagian tempat tersebut lalu disimpan sebuah kendi untuk kemudian diisi oleh air yang berasal dari 7 mata air tersebut dan kemudian dicampurkan oleh kembang setaman. Air yang diisi dari campuran ke 7 mata air tersebut kemudian campurkan dengan air lainnya yang sudah disediakan di setiap panggung. Setelah itu kemudian dilakukan prosesi Nyiramkeun disetiap panggung. Untuk pencucian patung Simabarkencana dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan patung Raden Panglurah oleh kaum pria, sedangkan benda-benda lainnya dilakukan oleh keluarga keturunan  Kerajaan Talaga lainnya. Mereka yang bertugas untuk mencucikan benda-benda pusaka ini, untuk kaum pria mengunakan baju kampret hitam dan ikat kepala, sedangkan untuk kaum wanita menggunakan kebaya. Air hasil pencucian benda-benda pusaka biasanya diperebutkan oleh warga yang menyaksikan tradisi Nyiramkeun. 
Patung Radeng Panglurah yang sedang dimandikan.
Patung Radeng Panglurah yang sedang dimandikan.
Genta (lonceng) dan uang  logam kuno yang sedang dicuci
Genta (lonceng) dan uang logam kuno yang sedang dicuci
Gong dan Goang renteng yang sedang dicuci
Gong dan Goang renteng yang sedang dicuci
Pusaka berupa senjata tombak dan meriam kecil yang sedang dicuci
Pusaka berupa senjata tombak dan meriam kecil yang sedang dicuci
Kendi pusaka yang ikut dicuci
Kendi pusaka yang ikut dicuci
Pusaka-pusaka yang sudah selesai di cuci
Masyarakat yang berebut mendapatkan air bekas mencuci pusaka
Masyarakat yang berebut mendapatkan air bekas mencuci pusaka
2012-12-31 11.03.11

Selasa, 10 September 2013

Profil Majalengka

Majalengka is one of regencies in West Java province, it borders Indonesia.Kabupaten Indramayu, Cirebon, Kuningan regency, Kudat District, the District and the District Sumedang Tasik towards Barat.Letak Majalengka itself can be said to be in the middle lane flanked by district other and usually Majalengka often used for alternative path when Lebaran homecoming that connects the district of West Java and Central Java after passing Cirebon if from the West and the North, and if from the south could through Tasikmalaya regency / Kudat for through vehicles who want to Central Java and Java Barat.Untuk More Clearly later also on every trip there are signs in the appropriate direction each goal that the only information that I know about the pathways that connect between West Java and Central Java ya can say 75 % valid possible, Self Majalengka still under the leadership of Regent H.SUTRISNO, SE Dr.H.KARNA SOBAHI M.Si and his deputy, following MMPd profile Majalengka the chairman and his Deputy.



PROFIL BUPATI MAJALENGKA 



Profil Majalengka
Full name                                              H.Sutrisno, SE, MSi
 
Place, Date of Birth                              Majalengka, 17 April 1949
 
Religion                                                Islamic

Home Address                                      Jl.Ahmad yani 1 Majalengka

Title                                                      Regent Majalengka
Province                                               West Java

Citizen                                                  Indonesian

History of Education:

- SD SR Ligung

- SMP N Jatiwangi

- SMA N Manado

- Academy of Sciences Statistics Jakarta (D3)

- Faculty of Economics, National University (S1)

- University Satyagama (S2)


PROFIL WAKIL BUPATI MAJALENGKA


Full name                                     DR.H.Karna Sobahi, M.Mpd

Place, Date of Birth                      Majalengka, 3 April 1954

 
Religion                                        Islamic

Home Address                              Jl. KH Abdul halim

Position of                                    Vice Regent Majalengka

 
Province                                       
West Java

Citizen                                          Indonesian

History of Education:
- SD MI PUI

- Junior & SLA PGAN (6Tahun)

- UNINUS (S1)

- UNINUS (S2)

- UNINUS (S3)






sejarah majalengka

Nama “Maja Lengka” berasal dari nama kuno yang dipakai (sinonim) untuk menyebut “maja pahit” atau “maja langu.” Maja lengka artinya maja pahit, buah maja yang pahit, karena ada juga buah maja yang manis (maja legi). Lengkit (leng dalam lengkap) artinya sama dengan pahit atau langu. Maja yang pahit itu berenuk (Crescentia cujete). Maja yang manis (maja legi atau maja batu atau Aegle marmelos) bisa dimakan dijadikan sirup, maja yang pahit (berenuk) tidak bisa dimakan, tapi biasa digunakan untuk obat malaria (sebelum kina ditemukan Junghuhn).
Dalam bahasa Sansekerta buah maja itu disebut  “bilva”, sementara pahit disebut “tikta” (lihat kamus Inggris-Sansekerta online). Kata “bilva”  itu berubah jadi “wilwa” dalam tuturan Indonesia-Jawa; majapahit = wilwatikta. Bilva= bael = buah dari Bengali, India. Bilva (bael) sendiri itu maja legi (buah maja yang manis).

Keberadaan Kabupaten Maja yang ibu kotanya di Maja itu tidak banyak bukti peninggalan sejarahnya, selain peta dan beberapa lokasi (foto di bawah) yang menyebut itu ada di Maja (Kabupaten–karena tidak berada di Kecamatan apalagi desa Maja). Yang paling meyakinkan hanya alun-alun Maja yang difoto dari arah kantor Kabupaten berikut. Kenapa difoto? Karena ada sudut pandang khas, yaitu bentuk Gunung Bongkok (Gunung Sela) yang sangat amat spesifik.


Jalan arah ke kiri ke Mesjid Maja — dalam literatur Belanda tertera sebagai berpintu khas -pintu koboy. Yang banyak pedati itu jalan kecil ke kiri ke arah bukit pemakaman, ke kanan akan bertemu lagi dengan jalan raya, di jalan ini tinggal keluarga Yogi S. Memet (mantan Guberbnur Jawa Barat/Mendagri, dan Tuti Hayati Anwar (mantan bupati Majalengka).
Bupati Kabupaten Maja (sampai berubah jadi Majalengka) adalah Raden Tumenggung Dendanegara (1819-1848), yang dipercaya makamnya ada di Gunung Wangi yang oleh penduduk setempat diberi nama  Dalem Kiyai. Jalan raya utama Maja -Cirebon adalah jalan raya Maja (kantor bupati), ke utara, berbelok ke kanan melewati jembatan Cirungkut (Cibuni, Cigede–kata orang Babakan Jawa Maja) melewati Blok Saptu terus ke Cileungsi Paniis, Cicalung, Ciomas, Padahanten, Sukahaji, Rajagaluh, Leuwimunding, Banjaran, Palimanan, Plumbon, Cirebon). Jadi jalan itu akan cocok diberi nama Jalan Raden Tumenggung Dendanegara.
 Perubahan Nama Kabupaten: Maja Menjadi Majalengka
a. Legalitas
Mulai 11 Februari 1840 nama Kabupaten Maja diubah menjadi Majalengka. Besluitnya berbunyi:
Verandering van den naam van het regentschap Madja (residentie Cheribon), alsmede van den zetel van hetzelve, thans genaamd Sindang-Kassie, in dien van Madja-Lengka.
“Verandering” [perubahan] “van de naam” [nama] “van het regentschap Madja (residentie Cheribon)” [keregenan/kabupaten Madja (karesidenan Cirebon)], “alsmede” [sekaligus juga] “van den zetel van hetzelve” [tempat kedudukannya], “thans genaamd Sindang-Kassie” [yang saat sekarang ini bernama Sidangkasih],” in dien van Madja-Lengka” [untuk selanjutnya (diberi nama) Majalengka).

Ibu kota,  yang dalam bahasa besluit disebut "tempat kedudukannya" (den zetel van hetzelve), yaitu kedudukan keregenan atau pemerintahan Kabupaten Majalengka yang "sekarang ini" (bahasa Belandanya "thans," alias pada saat itu) bernama Sindangkasih ["thans genaamd Sindangkassie") diubah nama juga menjadi  Majalengka.


Jika merujuk peta "Kabupaten Maja" di atas, dan peta kota Sindangkasih (Majalengka) Junghuhn di atas, itu berarti bahwa semula ibu kota Kabupaten Maja itu di Maja, bukan di Sindangkasih. Banyak orang menduga, dari membaca besluit yang sama yang menyebut nama Sindangkasih sebagai tempat kedudukan keregenan yang kemudian diubah menjadi Majalengka seiring perubahan nama Kabupaten Maja menjadi Majalengka itu, ibu kota Kabupaten Maja itu Sindangkasih. Bahkan ada yang menyebut Kabupaten Majalengka itu sama dengan  Kabupaten Sindangkasih (suka ditulis Kabupaten Majalengka atau Sindangkasih---salah besar, tidak ada nama Kabupaten Sindangkasih).
Maja dipilih sebagai ibu kota kabupaten diduga karena hawanya yang sejuk. Bagi orang Belanda kesejukan itu perlu dan penting, sesuai dengan iklim daerah asalnya. Lebih-lebih karena bisa pula "naik gunung" ke Argalingga mencari udara yang lebih dingin.
Tampaknya (hipotetis) ada pemikiran pada Pemerintah Belanda ketika itu untuk memindahkan ibu kota Keregenan Maja itu ke tempat lain, yang lebih "datar" sehingga lebih luas untuk pengembangan kota. Maja tidak representatif untuk dikembangkan jadi kota karena berbukit-bukit. Tempat yang terpilih berada di "wilayah Sindangkasih" (bukan desa Sindangkasih sekarang, tapi termasuk bagiannya). Salah satu pertimbangannya pasti ada jalur jalan (dari Karangsambung menuju ke Maja, Talaga, dan juga Kawali--lewat Sindangkasih sekarang, lalu melalui Kulur, Cieurih, Pasanggrahan, Anggrawati dst.).
b. Sindangkasih versus Majalengka
Seiring dengan perubahan tempat ibu kota, bukan di Maja lagi, maka nama kabupaten itu perlu diberi nama baru. Jika menggunakan nama "daerah yang baru" (Sindangkasih), akan bertabrakan nama dengan banyak nama Sindangkasih (Karawang, Ciamis, Beber Cirebon). Lalu dipilih tetap menggunakan nama Maja, akan tetapi harus ditambahi "tambahan kata" agar tidak tabrakan dengan nama Maja yang sudah tidak jadi ibu kota lagi.
Hipotetis: Setelah berdiskusi, tertemukanlah kemudian nama "Majalengka" dari para ahli yang tahu babad Majapahit. Majapahit (kerajaan) itu suka juga disebut Majalengka. Majalengka sama makna dengan majapahit. Dalam bahasa Sansekerta kerajaan Majapahit itu suka disebut juga Vilvatikta atau Wilwatikta. Vilva (wilwa atau bilwa) itu buah maja; tikta artinya pahit. Nama Majapahit sudah jauh lebih populer dibandingkan nama aliasnya, yaitu Majalengka. Dengan kata lain, nama Majalengka dalam berbagai "literatur" sudah tidak digunakan untuk menyebut nama Majapahit. Maka, karena ada persamaan ihwal buah maja (yang pahit itu), digunakanlah nama itu. Akhirnya, jadilah, per 11 Februari 1840 berdiri "kota" Majalengka sebagai ibu kota ("tempat kedudukan keregenannya" atau "den zetel van hetzelve") yang baru dari Kabupaten Majalengka, yang semula termasuk wilayah Sindangkasih.

Dengan kata lain, daerah "tempat kedudukan pemerintahan"  Majalengka yang bernama Sindangkasih itu, dipisahkan dari desa Sindangkasih semula. Bahasa lainnya, desa Sindangkasih dimekarkan menjadi ada Sindangkasih dan ada Majalengka. Ini seperti Kecamatan Majalengka dulu yang sekarang dimekarkan menjadi Kecamatan Majalengka dan Cigasong. Tampaknya begitu.  Lihat juga peta "kota" Sindangkasih (Majalengka) versi Junghuhn (1860-an) di atas, disajikan pula di bawah berikut. Tertulis:  Sindanglasi (Madja Lengka). Maksudnya, tadinya Sindangkasih, sekarang menjadi  Majalengka.


Jadi, desa (kota) Majalengka itu berdiri dengan besluit (surat keputusan) Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 11 Februari 1840, sebagai nama pengganti dari nama semula Sindangkasih (bagian dari desa Sindangkasih).
"Kampung Sindangkasih" asli  (di posisi desa Sindangkasih sekarang) kemudian dijadikan tempat kedudukan pemerintahan desa Sindangkasih yang baru sampai sekarang. Tampaknya urutan sejarahnya demikian. "Desa" (kota) Majalengka kemudian (belum terlacak tahunnya) dimekarkan lagi menjadi Majalengka Wetan dan Majalengka Kulon. Seperti desa Maja yang dimekarkan menjadi Maja Kaler dan Maja Kidul.
c. Maja atau Talaga Sebagai Ibu Kota Kabupaten Maja
Di bawah ini--seperti telah disinggung di muka--peta "Kabupaten Maja" (benar-benar tertulis Madja) dengan dua kota besar saja yang ada di dalamnya, yaitu Madja dan Telaga. Walau dibuat tahun 1841 dan diterbitkan 1842, tampaknya perubahan pada tahun 1840 (Maja menjadi Majalengka, dan Sindangkasih menjadi Majalengka) itu belum sampai pada pembuat peta, sehingga masih bernama Madja dan ibu kotanya belum Sindangkasih (Madjalengka).
Perhatikan garis jalan raya (yang tertulis "Post ...... Weg") dari Karangsambung ke Jamblang yang menjadi batas utara Kabupaten Maja. Dari Jamblang naik ke Gunung Ciremay menembus sampai dengan "regenschaft" Telaga (tulisan besar dekat garis), terus ke barat ke perbatasan Karesidenan Cirebon dengan Karesidenan Priangan ("Kabupaten Sumedang")--garis tebal yang ada warna pink.
Dari "postweg" (jalan raya) Karangsambung ke selatan (bawah peta) tidak ada "kota" apapun (Kadipaten, Sindangkasih atau Majalengka). Hanya ada dua lingkaran kecil dengan masing-masing bertuliskan "Madja" dan "Telaga." Itu sebabnya dapat disimpulkan bahwa ibu kota Kabupaten Maja itu  Maja, bukan Sindangkasih. Tidak logis juga jika ibu kotanya Talaga, karena tak tersebut-sebut dalam besluit ada perpindahan ibu kota (tempat kedudukan kebupatian atau keregenan) dari Talaga ke Sindangkasih. Ibu kota Maja tidak disebut, karena tampaknya dianggap otomatis tersirat dalam nama Kabupaten Maja. Dalam besluit disebut dengan kata "thans" (yang sekarang ini--saat "dipindahkan"), bukan yang tadinya atau dahulunya ("vroeger" atau "eerst") bernama Sindangkasih.
 bu kota Kabupaten Maja, seperti telah disebutkan di atas,  kalau tidak Maja ya Talaga. Talaga itu adanya di (semula) "regenschaft Telaga" seperti tampak dalam peta (di bawah nama "kota" Telaga), dan disebut-sebut pula keberadaanya dalam batas-batas wilayah Kabupaten Maja (tercakup ke dalam Kabupaten Maja) dalam besluit pendirian Karesidenan Cirebon yang salah satu kabupatennya Maja (5 Januari 1819).
Ada dua "regenschaft" yang disebut-sebut dalam batas-batas wilayah Kabupaten Maja dan lainnya, yaitu "regenschaft Rajagaluh" dan "regenschaft Talaga." Tampaknya itu pengakuan akan adanya wilayah eks" ketumenggungan ("kerajaan" bagian dari Kerajaan Galuh/Pakuan-Pajajaran) di situ.
Perhatikan peta Junghuhn di atas. Ada jalur jalan raya dari "Cirebon" sampai Maja, dan tidak terus ke Talaga. Jalur jalan dari Majalengka ke  Maja dan Talaga pun kecil saja (garis tunggal). Itu artinya Maja memang ibu kota Kabupaten Maja, bukan Talaga. Residen Cirebon jika akan inspeksi ke Kabupaten Maja ya datangnya akan ke Maja, bukan ke Talaga.
Jika ibu kota Kabupaten Maja itu Maja, maka dapat dianggap juga bahwa adanya "kota" (desa) Maja secara yuridis-formal sebagai ibu kota Kabupaten--sementara, sebelum sejarahnya terlacak lebih jauh--itu mulai tanggal 5 Januari 1819.
Andaikata nama Dalem Lumaju Agung itu mengikuti nama kampung atau wilayah, seperti Dalem Jero Kaso yang disebut demikian karena memimpin kampung Jero Kaso Maja, maka desa (daerah) Maja itu dulunya bisa jadi bernama desa Lumaju. Kata Agung (Ageng) merupakan tambahan kepada gelar Dalem, karena Dalem Lumaju benar-benar agung. Jadilah sesebutannya (bukan nama aslinya) "Dalem" (yang memimpin daerah kadaleman) "LUMAJU" yang "agung" (Dalem Lumaju Agung/Ageng). Dari asal mula bernama "LUMAJU," lama-lama berubah menjadi MAJA. Jauh juga, ya! LUMAJU, LUMAJA!
Stop: Bisa jadi nama Lumaju itu asal mulanya "LOH MAJA" (tanah daerah yang banyak ditumbuhi tanaman maja). Maja atau berenuk? Silakan baca: "Maja ta Berenuk?" dalam page Bongkok-Ciremay. Ini seperti "Loh Asri" yang lalu menjadi "Losari."  Kata Lohasri ke Lohsari, lalu ke Losari itu dekat sekali. Tetapi "lohmaja" menjadi "lumaju" memang agak jauh. Tapi, jauhan mana "Hujung Barang" kata Bujangga Manik (Prabu Jaya Pakuan) menjadi "Ujung Berung" kata urang Rajagaluh, dengan "loh maja" menjadi "lomaja" menjadi "lomaju" menjadi "lumaju." Coba tuliskan kata "lohmaja" itu dengan aksara pegon (Arab-Sunda-gundul alias tanpa syakal). Akan tertulis "lam-wawu-ha" (maunya "loh" bisa terbaca "luh"). Lalu "maja" akan dituliskan "mim-alif (panjang) dan jim" (maja, bisa juga maju).
Atau kita kembalikan saja nama Dalem Lumaju Agung itu ke "khiththahnya." "Maja" kembali ke "Lohmaja (Lomaja)," sehingga "Dalem Lumaju Agung" menjadi "Dalem Lohmaja (Lomaja) Agung." Keun siah, urang Maja dibikin parusingeun ku uing tah si urang Babakan Jawa Maja. Komo "urang Sindangkasih" mah!
Di mana "bekas-bekas" kantor Kabupaten Maja? Saya "curiga" dengan bangunan selatan alun-alun Maja yang pernah dipakai markas tentara Diponegoro (Batalyon 476) yang membangun "tugu" di depannya sekitar tahun1958 ketika sedang "perang" dengan DI/TII. Mungkin juga bangunan itu pernah dijadikan markas tentara Belanda ketika perang "actie I" yang salah satu peletonnya bermarkas juga di Argalingga (mengawasi perkebunan tebu?--jangan-jangan yang dimaksud perkebunan teh). Tentang ini silakan baca di bawah.
Bangunan dimaksud pernah dipakai oleh SPP-SPMA Kabupaten Majalengka di Maja. [Cik atuh, nu kagungan fotona jaman baheula, kintunkeun ka Mang-Tatang-UNY!]
Kantor bupati itu jangan dikira sangat mewah seperti istana. Ini contohnya di bawah: rumah Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja (1915-1922) yang juga amat sederhana saja (dilihat dari kaca mata sekarang). Jika yang tahun 1920-an saja seperti itu, tentu lebih-lebih lagi bangunan tahun 1819-1840.
Rumah Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja 1915-1922
Sekali Lagi Tentang Sindangkasih
Agar adil, tidak mengadili dengan “tak sengaja,” Februari 2011 ini tertemukan peta Belanda kuno juga. Di dalamnya ada Sindangkasih, walau tulisan tepatnya tidak begitu jelas, tapi tetap bisa diduga itu Sindangkasih. Hanya saja, dari letaknya tidak begitu jelas ini Sindangkasih mana, Beber, ataukah Majalengka?
Lihat perbandingannya dari Karangsambung di sebelah kanan pnadnagan kita pada peta. Di kiri atas ada juga Kuningan. Di sebelah atas Sindangkasih ada nama “kota” juga, tapi tak jelas apa. Tidak tampak tertulis seperti “Telaga.”
Ini peta besarnya, saya krop (potong) yang berkaitan dengan Cirebon saja.
Peta Wilayah Cirebon
Lihat gunung Ciremay (De berg “Sirmeij”). Turun ke bawah ada titik berwarna merah, di bawah Ciremay, di atas bukit-bukit, dengan tulisan menegak ke atas. Itu Sindangkasih. Ada titik merah pula di sebelah kanan Ciremay. Tidak jelas tulisannya (itu ternyata Cikro -Cikeruh).
Lihat di sebelah kanan ada Gunung Tampomas (Berg Tampomas). Itu wilayah Sumedang (District Sammadang). Ada sungai besar. Di situ ada Karangsambung. Tarik jalan ke arah kiri, itu ke timur. Berapa jauh dari Karangsambung (Kadipaten) ke Sindangkasih? Mungkinkah itu Sindangkasih Majalengka?
Agak susah? Ini potongan lebih khusus agar lebih jelas.
Peta Sindangkasih
Nah, sekarang agak lebih jelas. “Tetenger”-nya De Berg Sirmeij (pasti gunung Ciremay). Di bawah gunung Ciremay ada perkebunan jati. Ada sungai langsung dari Ciremay, ini nantinya bergabung ke Cimanuk (dari Sammadang). Ada bukit-bukit di paling bawah peta. Ada titik merah. Itu Sindangkasih (tertulis Cundang Kassi). Di atasnya, di hulu sungai agak ke kanan, ada titik merah juga. Itu yang tidak jelas kota apa.
Di sebelah kanan, dekat sungai Cimanuk, ada Karangsambung (bawah jalan, kanan sungai) dan di atas jalan kanan sungai ada Jatiraga. Atas kiri, kiri Ciremay ada titik merah juga. Itu Kuningan. Bukit-bukit di bawah itu tidak jelas bukit apa. Sindangkasih ada di sebelah timur sungai, itu kemungkinan besar Cikeruh. Jadi, Sindangkasih itu Majalengka atau? Ini pembesaran peta di atas.
Di peta berikut baru jelas itu yang disebut Cundanglassi (Sindangkasih?) itu di mana. Berada di sebelajh timur sungai Cikeruh. Bisa jadi, jika memang sudah ada sejak baheula, itu Sindanghaji Leuwimunding, tadinya Sindangkasih (?!) Hanya saja tidak terpahami kenapa sungai Cikeruh berasal dari timur gunung pegunungan Ciremay, dan Cundanglasi ada di utara jalan raya, Sindanghaji ada di selatan jalan raya. Sindangkasih Beber? Mungkin juga.
KERAJAAN SINDANGKASIH HANYALAH SEBUAH DONGENG LEGENDA
Berbasiskan sejarah pendirian kota Majalengka yang semula berasal dari “desa” (kampung bagian dari desa) Sindangkasih, sekian tahun kemudian tampaknya dibuatlah sebuah dongeng (“ngabobodo nu cengeng”), mirip sebuah legenda. Yang dijadikan objek dongeng adalah perubahan nama Sindangkasih menjadi Majalengka, dengan “keanehan” nama maja lengka yang oleh orang Majalengka “modern” tidak dikenal. Dicari direka-rekalah bahwa nama itu berasal dari kata “maja” (buah maja) dan bahasa cirebonan “langka” (beli ana) yang diubah manja jadi hilang (ngahiang), padahal  hilang (“leungit”–Sunda) itu bahasa cirebonannya “ilang.”
Versinya menjadi: (1) Kerajaan Sindangkasih dengan buah (hutan) majanya “langka” (hilang); dan (2) buah maja yang diperebutkan yang kemudian “langka” (hilang).
Kapan hilangnya Kerajaan Sindangkasih (dan berdirinya Kerajaan Majalengka), konon ditengarai dengan candrasakala “sindang kasih sugih mukti” yang nilai angkanya  sindang  2, kasih 1, sugih 4, dan mukti 1 (tahun  Jawa/Saka). Ini dibaca dari belakang menjadi 1412.  Jika dialihkan ke Masehi harus ditambah 78 jadi 1412+78 = 1490 (klop). Jika menggunakan tahun Masehi, maka angkanya menjadi sindang 0, kasih 9, sugih 4, mukti 1, dibaca terbalik jadi 1490. Nah, para ahli “sengkalan” bisa menyebutkan mana yang benar, tentu sambil harus tahu dulu apa itu makna kata “sindang” (jelas bukan bahasa Sunda yang berarti mampir, ada kemungkinan sinonim dengan sendang, sedang, sedong, atau situ). Juga makna “kasih”. Apakah bahasa Sunda modern mengenal kata kasih? Yang ada asih. Ada juga “kakasih” (yang mungkin serapan dari basa Indonesia kekasih). Jdi, pasti bahasa Sunda buhun (yang relatif banyak kesamaan dengan Jawa). Di Jogja ada nama kecamatan Kasihan yang terkenal dengan desa Kasongan (sentra kerajinan keramik). Orang Cirebon lama sudah kenal dengan nama Ki Gedheng (Gedhe = Agung, ing = di/dari) Sindangkasih (Sedhangkasih) yang punya anak Nay (Nyi) Ambet Kasih.
Yang aneh adalah candrasangkal itu lazimnya menunjukkan peristiwa tertentu yang cocok, misalnya runtuhnya Majapahit ditengarai dengan sengkala sirna ilang krtaning bumi yang sama dengan sirna 0, ilang 0, krta 4, dan bumi 1. Dibaca terbalik menjadi 1400 Saka. Masehinya 1400 + 78 = 1478. Runtuhnya majapahit itu sama dengan hilang musnahnya kesejahteraan di bumi (majapahit). Nah, hilangnya sindangkasih justru terbalik dicandrasangkali, yaitu menjadi sugih mukti. Kebohongan candrasangkala, alias candrasangkala itu tidak pernah ada. Harusnya yang sugih mukti itu Maja Lengka, jadi Maja Lengka Sugih Mukti, karena Sindangkasih sudah tidak ada, sudah berganti jadi Majalengka (karena majae wis langka–konon sejak itu ada nama Majalengka–gantinya Sindangkasih!!!!)  Tapi tak cocok dengan tahunnya!!!!!!  Jadi. ayamku?!! Hehehe…. Kasihan benar tuh “slogan” Sindangkasih Sugih Mukti dalam lambang Ma jalengka. Ganti saja, lah, malu-maluin anak cucu yang sudah intelektual (Jangan lupa, sudah banyak doktor dan profesor asli urang Majalengka, dan pasti akan bertambah banyak lagi!!!!)
FOTO-FOTO DI KABUPATEN MAJA/MAJALENGKA
Pertama, sungai Cikeruh. Ini di bagian mana? Tak tahu saya. Bisa jadi di dekat jembatan Sukahaji-Rajagaluh. Kedua, desa atau wilayah Sindangpalay, belum sempat saya lacak di mana. Foto-foto kuno jaman Belanda ini menyebutnya berada di derah “Madja.” Jadi, ada kemungkinan mengapa nama Kabupaten Majalengka sekarang itu awalnya Kabupaten Maja, karena nama Maja lebih populer di masyarakat dan pemerintah Belanda karena ada pabrik  teh di Argalingga, dan kemungkinan mereka juga banyak berdiam di lereng Ciremay  yang bernama “Maja” itu, entah di bagian mana, karena lebih dingin, lebih cocok untuk mereka. Curug Apuy juga lebih dikenal dengan nama Curug Maja, kan? Padahal di Apuy (di peta Belanda ditulis Apai, sementara Argalingga malah tidak dipetakan). Basa Sunda lawas (Kawi) “apuy”  di nusantara bagian lain disebut  apoy  dan api; bahasa Kawi “nirapuy” = tak berapi.
STOP: Maja lebih dikenal karena ada pabrik teh di Argalingga, salah! Hehehe. Kabupaten (Regensi) Madja berdiri 1819, ganti jadi Madjalengka 1840, pabrik teh Argalingga 1900-an. (Baca “Sejarah Majalengka: Melacak Jejak Hindia Belanda” di blog ini juga, di situ ada surat keputusan asli berbahasa Belanda dari literatur berbahasa Belanda tentang Regensi Madja dan Regensi Madjalengka!). Mungkin karena di wilayah “Maja” itu banyak sekali “dalem” dari “Kerajaan” Talaga (Katumenggungan Talaga, sebagai bagian dari Kerajaan Galuh atau Pakuan Pajajaran).
Nah ini “gawir” (tepian terjal sungai) Cikeruh. Bandingkan ketinggian dan kebesarannya dengan “mandor Belanda” yang berfoto di situ.
Gawir tepian terjal sungai Cikeruh, Maja, Cirebon “yang gundul.” Foto tahun 1930-an, koleksi Tropenmuseum.
Di bawah ini juga tepian sungai Cikeruh, sisi yang lebih landai. Sayang seberapa lebar dan dalam sungai Cikeruh tidak tergambarkan. Jika ada gambaran lebarnya dan kepenuhan airnya, maka patut diduga bahwa “urang Talaga” jaman Kerajaan Talaga masih ada itu jika ke Cirebon pasti “berlayar” di sungai  Cikeruh melalui “bandar sungai” (bahasa Belandanya “fort”) Palabuan. Nah, Palabuan ini belum terlacak jejaknya kenapa disebut Palabuan (yakin pasti “palabuan parahu” sungai Cikeruh). Tomo sudah terlacak dalam peta Belanda disebut Fort Tomo (pelabuhan–bandar sungai–Tomo), dekat desa tempat penyebrangan (menyeberangi sungai Cimanuk) yang bernama Karangsambung (disebut dalam besluit pembentukan Karesidenan CVirebon, 1819).
Tepian sungai Cikeruh, Maja, Cirebon “yang gundul.” Koleksi Tropenmuseum.
Di bawah ini foto lembah Sindangpalay, Maja, Cirebon. Sekali lagi, memang disebut di Maja, bukan di regensi Majalengka. Di mana itu, belum tahu. Sindangpalay atau Sindangpala? Tunggu, judul aslinya sebenarya “Sindangpalai-rug bij Madja,” alias tonggong (geger) Sindangpalay dekat Maja. Tampaknya, dari bacaan lainnya, foto ini ingin menunjukkan “pasir bulistir” (bukit gundul) yang ada di Sindangpalay  (Kabupaten) Maja atau Kabupaten Majalengka sekarang. Sindangpalay itu Sindangpala yang ada di Talaga sekarang?.
Lembah (Tepatnya “Geger”) Sindangpalay (Sindangpala, Talaga?), Maja, Cirebon “yang gundul.” Koleksi Tropenmuseum.
Berikut foto jalur lewat hewan yang akan mandi (“guyang”) di sungai, juga di Sindangpalay, Maja, Cirebon. Juga menunjukkan kerusakan alam akibat dipakai turun naik hewan.
Kerusakan karena jadi jalur “guyang” hewan-hewan di Sindangpalay, Maja, Cirebon. Koleksi Tropenmuseum.
Foto berikut menunjukkan lembah sungai Cisuluheun, mungkin di daerah sekitar Nunuk, Maja. Sama juga, sebenarnya menunjukkan “pasir bulistir” alias bukit gundul di atas sungai Cisuluheun. Sungai Cisuluheun itu anak sungai Cilutung. Hulu sungai Cilutung itu di Talaga, mengalir melalui Nunuk juga, bermuara di Cimanuk. Cisuluheun di mana ya hulunya? Dekat Cilutung Talaga ada sungai Cibodas dan kampung Cibodas. Di situ (Cibodas, desa/”dessa” Maja, Kecamatan/”district” Maja, Kabupaten/”Regensi” Majalengka “baheula”) tahun 1870-an pertama kali di Indonesia dilakukan pengeboran minyak, dengan “mesin” tenaga hewan. Lihat peta Junghuhn yang ada tulisan “aardolie” (minyak bumi) dekat sungai Cibodas.

Lembah Sungai Cisuluheun (daerah Nunuk, Maja ?), Anak Sungai Cilutung yang Panjangnya 10 km.;
Foto Jaman Belanda; Koleksi Tropenmuseum
PABRIK GULA KADIPATEN DAN LAINNYA
Pabrik gula Kadipaten kini (2010) sudah tidak ada lagi. Bangunannya sudah menjadi bangunan “ajang penampakan.” Dulu seperti apa? Ini beberapa “sejarahnya.” Termasuk ada satu pabrik gula dekat Gunung Kromong, tak tahu di sebelah mana. Kapan-kapan dilacak (tampaknya Gempol, Palimanan–namanya Panbrik Gula Parungjaya).
Nah, ini foto kuno (1893) para “amtenar” pabrik gula Kadipaten berfoto bersama selesai melakukan perburuan. Di belakangnya tampak “urang Kadipaten” padajongkok.
Foto bersama setelah berburu, para amtenar Pabrik Gula Kadipaten, tahun 1893.
Foto di bawah ini memperlihatkan seorang wanita sedang berada di bawah tenda taman di kompleks perumahan dinas pabrik gula Kadipaten, tahun 1890-1910
Seorang Wanita Belanda Di Bawah Tenda Taman Rumah Dinas, 1890-1910. Koleksi Tropenmuseum.
Pabrik Gula Kadipaten dilihat dari udara (atas asli; bawah sudah dikrop)
Pesta arak-arakan memulai giling tebu pabrik  gula Kadipaten
Dari Cirebon ke Bandung tahun 1920-an ada autobis lewat Kadipaten. Ini fotonya.


Pata Jalan Raya Pos (Postweg) buatan Daendels 1808 Melewati Kadipaten Parapatan Jamblang
(batas utara Kabupaten/Regenschaft Madja 1819-1840)
Pesawahan di daerah Kadipaten (1920-1933) , di latar belakang Gunung Ciremay
Jalur kereta api Cirebon- Kadipaten (tidak diketahui di daerah mana)
Selain di Kadipaten dan Jatiwangi (foto-fotonya belum terlacak) di Gempol, Palimanan (dekat Gunung Kromong) ada juga pabrik gula Parungjaya. Ini fotonya.

Gunung Kromong dan Pabrik Gula Parungjaya Masa Belanda
Nah kalau yang ini rumah sakit Cideres (foto “ditemukan” 8 Februari 2011).
Rumah Sakit Cideres, 1908 (Punya “Zending,” tapi di pintu ada tulisan “Allah”)
MAJALENGKA “KEUR BAHEULA” (TEMPO DULU)
Nah, ini dia wajah Majalengka tempo dulu, jaman baheula. Pertama, kita lihat “aloen-aloen Madjalengka.” Lucu juga ya, jauh berbeda dari sekarang. Cuma, itu di latar belakang gunung apa? Seperti Gunung Bongkok. Tapi apa iya seperti itu dilihat dari Majalengka? Ini memotretnya  dari arah mana? Atau, ini alun-alun di mana? Apa alun-alun Majalengka sekarang? Masih banyak pedati, ya? Tuh sedang parkir berderet-deret.
Jangan-jangan ini sebetulnya “aloen-aloen Madja” ketika masih jadi ibu kota Kabupaten Madja yang berubah jadi Madjalengka. Pembuat nama bisa salah. Ini difoto dari arah selatan. Jalan ke kiri (barat) itu ke mesjid Maja. Pedati berderet itu di jalan kecil utara laun-alun Maja sekarang, lupa nama jalannya (munkin Dalem Rancucuk atau Dalem Kulanata), kalau arah ke kirinya Jalan Ketib Anom. Jalan berpedati itu sambungnya ke kanan ke rumah keluarga Yogi Memet, melalui SDN Maja III (lalu jadi SMPN Maja). Jalan di tengah itu sekarang jadi jalan raya Maja-Majalengka/Talaga. Bangunan di belakang pedati itu dulu Poliklinik Maja dan Koramil. Di bagian depannya toko keluarga Aziz (ayah Fuad mantan kuwu Maja).Foto tampaknya diambil dari halaman agak barat Kantor Bupati Madja ketika itu, atau dari jalan utara alun-alun menuju ke barat ke arah pasir Kopo (yang banyak jambu kopo ketika baheulanya).
Alun-alun Majalengka (Maja?) jaman Belanda
Kalau yang ini sih Gunung Bongkok (Gunung Sela) sekarang, dilihat dari perbatasan Haurbuni (Haurduni ceuk letah ayeuna teh!) dan Banjaran, Maja.
Gunung Bongkok (Gunung Sela) dari Arah Barat (Haurbuni-Banjaran)
Yang berikut ini “kereta pos” Majalengka-Kadipaten. Lucu juga, ya, bentuk “kahar” alias “dokar”-nya. Nah, selain itu, kantor pos dan telegraf (“Hulppost en Telegraaf Kantoor”) ini kira-kira di sebelah mana kota Majalengka sekarang? Bisa dibuat “maket” duplikatnya, ya. Terus di simpan di Museum Majalengka (bukan Museum Sindangkasih, atuh, “teu kaci”–Hehehe. Memang kota Majalengka aslinya kota Sindangkasih? — Silakan baca “Kabupaten Majalengka: Melacak Jejak Hindia Belanda” di blog ini juga!)
Kereta pos Dinas Pos Pemerintah jalur Majalengka-Kadipaten
Berikut contoh-contoh perangko “Majalengka” dari jaman Belanda (“Nederlandsch Indie”), maksudnya perangko yang digunakan untuk memposkan surat dari Kantor Pos Majalengka. Tertemukan lagi koleksi perangko jaman Belanda itu (15 Januari 2011) yang dicap stempel pos dari Kadipaten.
Perangko Pos Majlengka
Perangko Pos MajelengkaPerangko Nederlandsch Indie cap pos Majalengka
Perangko Kadipaten 14-11-1923
Yang berikut ini “kebun tebu” yang “padat tenaga kerja” yang terletak di antara Majalengka dan Rajagaluh. Ini foto tahun 1935.
Hamparan kebun tebu di antara Majalengka dan Rajagaluh sekitar tahun 1935.
Nah, ini konon rumah sakit Majalengka baheula pisan. Tahun 1925. Ini juga kira-kira di sebelah mana dari kota Majalengka sekarang, ya? Apa yang di Jalan Kesehatan (dari Toko Potret A BOK ke kiri kalau dari Kadipaten, ke kanan kalau dari Maja) sebelum dibangun jadi gedung?
Rumah sakit Majalengka jaman Belanda
Nah, yang ini jembatan Tjimanoek di Kadipaten, juga jaman Belanda. Memang sekarang sudah berubah? Belum, ya. Aslinya “penyebrangan” — menyebrangi sungai Cimanuk dari Sumedang ke Cirebon dan sebaliknya di Karangsambung yang disebut-sebut dalam besluit Kabupaten Maja di mana, ya?
Jembatan Cimanuk di lintas jalan raya Priangan – Cirebon dekat Kadipaten
Jembatan Cimanuk Sumedang-Kadipaten 1946-1950
Yang belum tertemukan adalah foto-foto kuno  “Fort Tomo” alias pelabuhan sungai Tomo yang pasti ada di sekitar jembatan ini.
Nah, yang ini bendungan Cigasong tahun 1918, kiriman Tatang Gustawan (hatur nuhun).
Mobil di Majalengka kepunyaan Tan Ho Goan berfoto bersama Tjio Tin Lan dan saudara perempuannya
(Sopirnya siapa, ya?)
GOENOENG CHAREME DAN “ANAK-ANAKNYA”
Ini ada peta “kuno” (tapi sudah ejaan baru–agak aneh). Peta ini tentang Gunung Ciremay dan anak-anaknya. Gunung Bongkok ternyata resmi disebut Gunung Sela. Selain itu di atasnya ada Gunung Pucuk. Desa Tegalsari belum tersebut, yang masih ada nama Tegalacawel (Tegalcawet). Cikebo malah masuk dalam peta sebagai sebuah “desa.” Yang termasuk membuat bingung, antara Cicalung dan Maja ada desa Cileungsing. Ini Paniis? Kenapa disebut Cileungsing? Banyak leungsing, pasti. Tapi kapan diubah jadi Paniis? Atau, masih ada kampung Cileungsing sampai sekarang?
Lainnya bisa lihat sendiri. Klik untuk membesarkan.
Peta Gunung Ciremay
Bandingkan dengan peta di bawah ini.
Peta Kabupaten Majalengka, 2010
TALAGA
Ihwal Kerajaan Talaga, baca di kaca (“page”) khusus dengan judul itu. Ini kisah jaman Belanda. Pertama-tama kita lihat foto-fotonya dulu. Nah ini foto situ Sangiang. Eh, ternyata bule-bule Belanda juga senang ya nongkrong-nongkrong di Situ Sangiang (“meer van Sangiang“).
Situ Sangiang 1918
Bule-bule Belanda di Situ Sangiang Talaga, 1918
Nah, ini foto bule-bule Belanda pulang dari Situ Sangiang ke Talaga. Enak ya, ditandu.
Pulang dari Situ Sangiang Menuju Talaga, 1918Naik tandu pulang dari Situ Sangiang ke Talaga, 1918
Nah, foto yang satu ini orang Talaga paling tahu. Pemandangan ke lapangan luas (hamparan sawah) di Talaga. Sebelah mana, ya?
Hamparan Sawah Tampak di Talaga, Majalengka, 1918Pemandangan hamparan tanah (sawah) luas di Talaga, 1918
TENTARA BELANDA DI MAJA
Nah, ini kisah tentara Belanda (Brigade H) di Majalengka (yang disebut-sebut: Tonjong, Majalengka, Maja, Argalingga).
BRIGADE-H Belanda yag pernah di Maja, Argalingga, Tonjong, MajalengkaLambang Brigade-H Belanda
Op 26 november 1949 werd het 1e peleton, samen met een peloton mitrailleurs van 43 ZMC, gelegerd te Madja, gelegen aan de voet van de berg Tjereme. Twee dagen later werden tien man van het 2e peloton gelegerd op de post Argalingga om toezicht te houden bij de ontmanteling van de daar gelegen suikerrietplantage. [Pada tanggal 26 Nopember 1949, Peleton I, disertai peleton senapan mesin 43ZMC, bermarkas di Maja, di kaki gunung Ciremay.  Dua hari kemudian, sepuluh orang dari Peleton II bermarkas di Argalingga untuk mengawasi perkebunan tebu di situ--bukan teh?--Pen.].
Gunung Ciremay: Di kakinya Brigade H-Belanda bermarkas (1949-1950)
Op 5 december voegde het restant van het 2e peloton zich bij de groep te Argalingga. Twee dagen later werd de post Argalingga opgeheven, waarna het gehele 2e peloton werd overgebracht naar Cheribon (Kosambi kazerne). Op 15 december werd ook de post Madja opgeheven en werd het 1e peloton teruggenomen op Madjalengka waar ook de staf en het 3e peloton nog gelegerd waren. [Pada tanggal 5 Desember sisa pasukan Peleton II bergabung ke Argalingga. Dua hari kemudian pos Argalingga dipindahkan. Seluruh anggota pasukan di Argalingga dipindahkan ke markas Kosambi Cirebon. Pada tanggal 15 Desember seluruh pasukan yang ada di Maja ditarik kembali ke Majalengka, bergabung dengan pimpinan Brigade dan anggota Peleton III yang ada di sana].
Ini ceritera lain sih, bukan lanjutan Brigade H. Konon, menurut pengalaman prajurit Belanda, malam-malam, dalam kegelapan, tentara Belanda patroli. Tak tahunya, paginya, diketahuilah bahwa tempat patroli itu ternyata pekuburan. Hiy . . . . Ini di Madjalengka, tapi Madjalengka sebelah (desa, kecamatan) mana, tak jelas.
Tempat malam-malam tentara Belanda patroli, tapi tak tahu itu kuburan. (Kompleks pekuburan di derah … Majalengka)
BANTARUJEG
Nah, orang Bantarujeg juga kebagian terlacak “jaman baheulanya.” Ini pengalaman seorang tentara Belanda (Leo Mossink) yang diceriterakannya bagaimana ia “berkelana” di Jawa Barat. Termasuk ke Cikijing, Talaga, dan juga Bantarujeg. Kisahnya dimuat dalam website para veteran tentara Belanda di Indonesia. Kisahnya saya nukilkan (dalam bahasa Belanda, tentu) di bawah.
Ini salah satu koleksi fotonya. Terpampang wajahnya di dekat jembatan bambu yang membentang di jalan antara Talaga dan Bantarujeg. Tidak tahu pasti apakah itu jalan raya Talaga Bantarujeg, atau jalan lain, tapi jelas disebut antara Talaga dan Bantarujeg.
Tentara Belanda di jembatan bambu antara Talaga dan Bantarujeg, tahun 1947-an
Yang satu lagi juga ceritera tentara Belanda tadi. Pasukannya terjun payung di Bantarujeg. Hayo, urang Bantarujeg, di lapangan mana tentara Belanda ini padaterjun?
Tentara Belanda terjun payung di Bantarujeg, 1947-an
Nah, masih dalam ceritera tentara Belanda yang “jalan-jalan” ke Cikijing, Talaga, dan Bantarujeg, ada peta Jawa Baarat yang dipasang di ceriteranya. Nah, coba cari ada tidak Bantarujeg di situ. Hehe… Sayang, karena mungkin peta itu aslinya berwarna, lalu ketika ia muat jadi hitam putih, jadinya tak begitu jelas, ya.
Peta Jawa Barat jaman Belanda
Nah, ini cuplikan kisah Leo Mossink dimaksud. Diindonesiakan rada kira-kira saja, intinya.
Geschiedenis trekt zo zijn sporen – Leo Mossink (2000—dimuat dalam “7 December Divisie – Indië-veteranen website” Agustus 2010)
Tjikidjing
Uitgeleide gedaan door bijna de hele kampongbevolking van Pasirwangi ging het richting Soemedang, een bergachtig gebied via de Nagregpas. Men wilde in één dag naar onze nieuwe post Tjikidjing. Het was een zware tocht vooral met de carriers. Dat gaat niet zo snel. Warm gelopen motoren, wachten op afkoeling en op het laatst ook slepen tot de eerstvolgende post van het bataljon. [Kami diantar oleh hampir seluruh penduduk Kampung Pasirwangi Sumedang meneruskan perjalanan melalui perbukitan Nagreg. Kami diharapkan dalam satu hari sudah sampai ke pos baru kami di Cikijing. Itu perjalanan yang melelahkan dalam karir kami sebagai tentara. Ternyata perjalanan tidak mulus. Kendaraan kepanasan, sehingga kami harus menunggu sampai mesin dingin lagi, baru meneruskan perjalanan kami ke pos kami yang baru].
De laatste 30 kilometer was het wegdek verschrikkelijk slecht, vol met gaten en ontzettend stoffig. Dit gebied waren we tijdens de 1e actie in 1947 ook door gereden. „s Avonds om half 9 waren we, moe en heel erg stoffig, in Tjikidjing. Tot overmaat van ramp was er geen water om ons te “mandiën” (het juiste woord in het Maleis is mandi, dat betekent baden, maar bij ons was het altijd “mandiën”.) Gelukkig begon het wat later te regenen, een heerlijke tropische bui, en konden we buiten genieten van een heerlijke douche. Moe, maar schoon, heb ik die nacht lekker geslapen [Tiga puluh kilometer terakhir menjelang tujuan, perjalanan benar-benar memayahkan, jalanan penuh batu dan debu. Tempat yang kami tuju dalam "Aksi I tahun 1947" ini pun belum dipersiapkan. Pukul 8.30 malam kami baru sampai di Cikijing. Celakanya, di markas tidak ada setetes pun air untuk kami "mandien" (kata Melayu yang tepat sebenarnya mandi, artinya membersihkan tubuh, tetapi kami membelandakannya menjadi "mandien). Untunglah tak lama kemudian turun hujan, iklim tropis yang menyenangkan, sehingga kami bisa menikmati mandi gerujugan ("shower") di luar dengan air hujan. Karena kelelahan, tetapi tubuh sudah bersih, malam itu jadinya kami bisa tidur lelap].
De temperatuur was daar wat hoger dan in Pasirwangi, zodat we met een deken minder konden volstaan. Het was de bedoeling dat we daar een paar weken zouden blijven. Het ligt in de buurt van de berg Tjeremai. Het gebied waar wij zaten was gelukkig tamelijk vlak. Toch hebben we in de korte tijd dat we er zaten zware patrouilles gemaakt, een keer zijn we zelfs 17 uur onderweg geweest [Suhu di Cikijing lebih tinggi dari di Pasirwangi, sehingga satu selimut tidak cukup untuk kami. Padahal kami rencananya akan berada di situ dalam beberapa minggu. Daerah itu berada di kaki Gunung Ceremai. Areanya relatif membuat kami senang, karena datar. Akan tetapi toh kami harus melakukan patroli yang berat, tidak kurang dari 17 jam di perjalanan sekali patroli].
We zaten daar in het seizoen van de natte moesson. De wegen waren niet verhard, het leek wel een soort rode klei. Het was dan vooral ‟s nachts geen lolletje om er op uit te moeten [Kami berada di sana di musim penghujan. Jalan-jalannya tidak beraspal, lebih berupa tanah lempung merah. Ketika malam kami tak bisa ke mana-mana mencari hiburan].
Talaga
Drinken badwater moesten we in Talaga halen. Daar was ook de staf van de mortiercompagnie gelegerd.  Mijn vriend Han van Doorn lag daar ook. Ik was met hem bevriend geraak toen we beiden in het staf peloton zaten. Toen dat peloton opgeheven werd ging hij naar het 12e en ik naar het 14e peloton. Af en toe kwam ik in Talaga om naar de Mis te gaan of ook om water te halen en dan zocht ik hem op.  De aalmoezenier kwam af en toe in Talaga. De dienst werd gehouden in een van de kamponghuizen, voor alle in de buurt gelegen katholieke militairen [Di Talaga kami mau tidak mau harus meminum juga air yang sama yang dipergunakan untuk mandi. Di sana bermarkas pula kompi senjata berat. Teman saya, Han van Doorn, juga ada di sana. Kami dulu bersahabat karena masuk dalam peleton yang sama. Ketika ada perubahan anggota peleton, kami berpisah, ia masuk ke Peleton XII, sementara saya masuk ke Peleton XIV. Saya kadang-kadang harus ke Mes Talaga untuk mengambil air minum, dan saya sering berjumpa dia ketika itu. Pendeta Katolik kadang-kadang datang juga ke Talaga. Pelayanan dilaksanakan di salah satu rumah orang kampung bagi semua anggota yang beragama Katolik].
Madjelengka
In Madjelengka was de bataljonsstaf gelegen. Dat was ongeveer 1½ uur rijden van ons kamp. Het hele bataljon was nu in dat gebied rond Madjelengka geconcentreerd [Di Majalengka bermarkas anggota batalion. Dari markas saya di  Cikijing perjalanan ke sana sekitar satu setengah jam. Seluruh anggota batalion sekarang semuanya bermarkas di sekitar Majalengka].
Nieuw uniform [Seragam Baru]

We kregen daar een pyjama, dat was nog nooit gebeurd, en ook een nieuw kaki uniform. De maat klopte voor geen meter. In de kampong zat een kleermaker die heb ik gevraagd het uniform passend te maken. Daar deden mijn collega‟s nogal smalend over, maar toen ze het resultaat zagen kreeg de kleermaker meer klandizie. Aan Coby heb ik echter moeten vragen in Holland een leeuw embleem en een EM-badge te willen kopen en op te sturen De kleermaker heeft ze op de mouwen genaaid. In het leger waren die badges niet beschikbaar, maar nu was het uniform toch compleet. We hebben tot eind november 1948 in Tjikidjing vertoefd [Di Majalengka kami mendpat satu stel piyama,  sebelumnya tidak pernah ada pembagian piyama, juga mendapat satu stel seragam pakaian "kaki." Sayang ukurannya tidak pas. Di kampung ada tukang jahit yang bisa saya minta mengepaskan seragam saya.
Bantaroedjeg
Daarna zijn we naar Bantaroedjeg gegaan. Dat was een post waar we niet met vervoer konden komen. Tussen Talaga en Bantaroedjeg was een brede kali. De brug die er over gelegen had was opgeblazen en nog steeds niet hersteld of vervangen door een baileybrug [Kami lalu pindah ke Bantarajeg. Di pos ini kami tidak punya alat transportasi. Antara Talaga dan Bantarujeg terdapat sebuah "kali" yang lebar. Jembatan yang ada di atas kali tersebut hancur dan belum dibetulkan atau dibuatkan jembatan bailey].
Een kilometer of zes richting Bantaroedjeg was in dezelfde weg over een brede kali een bamboe loopbrug aangebracht. Vervoer kon dus tot de kapotte brug, vervolgens met het materiaal lopend naar de andere kant van de loopbrug. Daar stonden dan carriers te wachten waarmee we naar het kamp reden. Als er wat gehaald of gebracht moest worden uit of naar Talaga, moest dat op deze omslachtige manier gebeuren. Dat nam heel wat tijd in beslag.
Wij losten daar het 12e peloton af. Zij lieten hun transportmiddelen in Bantaroedjeg achter, wij het onze in Talaga. Hoe dat rijdend materiaal in Bantaroedjeg gekomen is, is me altijd een raadsel gebleven. We werden bevoorraad vanuit de lucht. Op gezette tijden kwam er een Dakota over die grote pakketten aan parachutes uitwierp met daarin courage en allerlei andere bestelde benodigdheden en onderdelen. Ook benzine en olie voor de carriers.
Het was daar veel patrouille lopen. Gelukkig niet zulk zwaar terrein. Om een zo groot mogelijk gebied te kunnen bestrijken, brachten we met de carriers de jongens zo ver mogelijk het gebied in. Plaats van ophalen en tijd werd afgesproken. De twee carriers gingen met de chauffeur en één man bewaking terug naar het kamp om dan later de jongens weer op te halen.